Daging dari Langit – Kisah Puluhan Lansia Sebatang Kara yang Kembali Merasakan Protein di Meja Makan
31/10/2025 | Penulis: sudrab
Penyaluran Bantuan
SIDOARJO, 31 Oktober 2025– Di balik hiruk-pikuk kota industri, tersembunyi 49 cerita tentang kelaparan yang tak terucap. Mereka adalah wajah miskin ekstrem BAZNAS Sidoarjo 2025: lansia sebatang kara, tubuh rapuh oleh usia dan penyakit, yang lama tak lagi tahu rasa daging. Hingga akhir Oktober ini, 225 paket Daging DAM (Denda Haji) higienis siap saji—alokasi BAZNAS RI—tiba seperti hujan rahmat di 18 kecamatan. Ini bukan sekadar bantuan. Ini adalah nyawa yang diselamatkan.
“Setiap pouch ini adalah janji kami: tak ada lagi lansia yang tidur dengan perut kosong karena tak mampu beli protein,” tegas Ahmad Hamdani, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, saat memimpin distribusi perdana di Desa Jemirahan, Jabon. “Kami verifikasi satu per satu: sebatang kara, di atas 70 tahun, sakit kronis, tak punya pendapatan. Bu Kujaimah di Jemirahan jadi penerima pertama. Rumahnya cuma 3x4 meter, atap bocor, lantai tanah. Sudah lama tak makan daging.”
Di Gagangpanjang, Tangulangin, Ibu Kasih (76) menyambut tim dengan tangan gemetar rematik. “Alhamdulillah, ini pertama kali sejak suami meninggal 12 tahun lalu,” katanya, mata berkaca saat meraba pouch berlabel “Daging Kambing Olahan Higienis”. Di Grogol, Tulangan, Bapak Hartadi Wibowo (78)—diabetes, kursi roda, hidup sendirian—tersenyum tipis: “Besok saya masak rendang kecil-kecilan.”
Ahmad Hamdani tak berhenti di situ. “Kami tak cuma serahkan paket. Kami duduk, dengar cerita mereka. **Ibu Suwaseh di Kere, Krembung, buta katarak, tak punya siapa-siapa. Bapak Lisnanto di Klantingsari, Tarik, gangguan pencernaan kronis. Ibu Maslikah di Mergobener, asma parah. Semua masuk daftar 49 prioritas.” Prosesnya ketat: RT/RW verifikasi, kader desa konfirmasi, BAZNAS cross-check. “Transparansi adalah nyawa program ini,” tambah Hamdani.
Distribusi berlanjut ke Segodohbancang (Bapak Kartiman & Ibu Muah), Balongbendo (Bapak Ngadiman), hingga Buduran (Ibu Muslikah). Puji Astutik di Kalijaten, Taman—penerima ke-44—berbisik: “Anakku merantau, tak ada kabar. Paket ini seperti anakku pulang.” Total 49 keluarga ekstrem dari 225 paket telah tersalurkan per 31 Oktober. Sisanya? Menanti OJOL terdampak, santri pondok, dan ibu hamil anti-stunting.
“Ini baru awal,” tandas Hamdani sambil menutup catatan lapangan. “DAM 2025 bukan tentang angka, tapi tentang martabat. Lansia yang tak lagi harus memilih antara obat atau nasi. Yang tak lagi menahan lapar demi hemat uang. Mereka adalah ibu kita, bapak kita.”
Di bawah langit Sidoarjo yang kini terasa lebih cerah, Puluhan nama itu kini punya cerita baru: dari kelaparan menjadi syukur, dari terlupakan menjadi terlindungi. Daging DAM bukan sekadar protein. Ia adalah cinta yang dikemas rapi, disalurkan tepat waktu.
Berita Lainnya
Semangat Juang Tak Pernah Padam: LVRI Sidoarjo Titipkan Harapan untuk Penyintas Bencana Sumatra
Ketukan Nurani dari Selasar Banjarbendo
Keluarga Besar SDN Kramatjegu 2 Tanamkan Empati Lewat Aksi Nyata untuk Sumatra
Senyum di SDN Trosobo 2: Membasuh Dahaga Pendidikan dengan Kepedulian
Membasuh Luka Sumatra dari Jantung Kota Delta: Sidoarjo Bergerak!
Wujudkan Karakter Peduli, SDN Suko I Sidoarjo Salurkan Donasi untuk Penyintas Bencana Sumatra via BAZNAS

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
