WhatsApp Icon

Rumah Hijau untuk Mbah Paini: Ketika Zakat Mengembalikan Martabat di Usia Senja

02/12/2025  |  Penulis: sudrab

Bagikan:URL telah tercopy
Rumah Hijau untuk Mbah Paini: Ketika Zakat Mengembalikan Martabat di Usia Senja

BAST-Berita Acara Serah Terima

SIDOARJO — Di bawah atap yang ambruk, seorang nenek 88 tahun hidup dalam ketakutan. Setiap tetes hujan bukan sekadar basah, tapi ancaman. Setiap angin malam bukan sekadar dingin, tapi pengingat betapa rentannya ia di hadapan alam. Ibu Paini, warga Desa Kedungsugo, Prambon, Sidoarjo, adalah wajah nyata dari mereka yang terlupakan—lansia tanpa penghasilan, tanpa sanitasi layak, tanpa harapan.

Namun hari Senin, 1 Desember 2025, segalanya berubah.

Rumahnya yang dulu? Atapnya ambruk sejak lima bulan lalu, meninggalkan lubang menganga yang mengundang hujan dan ancaman runtuh kapan saja.

Ketika tim BAZNAS Sidoarjo, dipimpin Wakil Ketua III Ach. Saleh dan Staf Pelaksana Achmad Richie, melakukan asesmen di awal November, mereka menemukan kondisi yang memilukan. Bukan hanya atap rusak—Mbah Paini sama sekali tidak memiliki fasilitas sanitasi. Di usianya yang renta, ia harus berjuang untuk kebutuhan paling mendasar: buang air dengan aman dan bermartabat.

"Bayangkan, di usia senja, beliau harus menghadapi risiko infeksi dan ketidaknyamanan hanya untuk kebutuhan dasar," kata Achmad Richie, suaranya penuh empati. "Ini bukan soal kenyamanan lagi—ini soal martabat dan kesehatan."

Namun tim BAZNAS tidak datang hanya untuk mencatat. Mereka datang untuk bertindak.

Transformasi Total: Lebih dari Sekadar Dinding Baru

BAZNAS Sidoarjo bertindak cepat. Rumah Mbah Paini dikategorikan sebagai Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) prioritas utama dan layak menerima program Bedah Rumah Total—bukan tambal sulam, tapi renovasi menyeluruh yang didanai dari zakat umat.

Dan kini, berdiri kokoh: rumah bercat hijau terang dengan lantai keramik, kamar sederhana tapi layak, dan—yang paling krusial—fasilitas sanitasi yang memadai. Di dindingnya terpasang plakat BAZNAS, simbol bahwa zakat bukan sekadar angka, tapi solusi nyata.

Saat perwakilan BAZNAS menyerahkan berkas serah terima, tawa lepas Mbah Paini dan anaknya memenuhi teras rumah baru itu. Raut wajah mereka berbicara lebih keras dari kata-kata: ini adalah kebahagiaan yang telah lama dinanti.

"Dipanggheni nggih, niki omahe nggih," ujar Achmad Richie lembut, memintanya menempati rumah baru dengan tenang.

Mbah Paini tersenyum lebar. "Lah niki kula tinggale suwung," candanya—rumah ini memang sederhana, hanya satu kamar utama. Tapi baginya, ini adalah istana. Ini adalah *rumah*.

Zakat yang Hidup

Kisah Mbah Paini adalah bukti bahwa filantropi bukan tentang angka besar atau proyek megah. Filantropi adalah tentang melihat—benar-benar *melihat*—sesama yang jatuh, lalu mengulurkan tangan.

Lima bulan lalu, Mbah Paini tidur di bawah atap bolong, tanpa harapan. Hari ini, ia memiliki rumah layak, sanitasi memadai, dan yang terpenting: martabat yang dikembalikan.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering lupa pada yang kecil, BAZNAS Sidoarjo membuktikan bahwa zakat yang dikelola dengan amanah bisa menjadi kekuatan transformatif. Bukan charity yang menyisakan ketergantungan, tapi *empowerment* yang mengembalikan hak hidup layak.

Dan di balik senyum lebar Mbah Paini di teras rumah hijaunya, tersimpan pesan sederhana tapi kuat: kebaikan, sekecil apa pun, selalu punya tempat. Selalu punya arti.

Terutama bagi mereka yang nyaris tak terlihat—sampai seseorang memilih untuk benar-benar melihat.

Bagikan:URL telah tercopy
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat