Berita Terbaru
BAZNAS Sidoarjo Ulurkan Tangan, Beri Kekuatan Keluarga Santri Korban Tenggelam
SIDOARJO – Duka mendalam yang menyelimuti keluarga almarhum Ahmad Daffa Anil Haq, santri berusia 17 tahun yang meninggal dunia akibat tenggelam di aliran Sungai Kapasan, mendapatkan respons cepat dan penuh kepedulian dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo. Dalam balutan semangat filantropi, BAZNAS Sidoarjo hadir memberikan bantuan tunai sebagai bentuk dukungan moril dan materiil bagi keluarga korban.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Badruz Zaman, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, didampingi Ahmad Hamdani, pada Senin, 10 November 2025. Penyerahan dilakukan secara sederhana dan penuh kehangatan di kediaman korban di Desa Tambakrejo, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang dihimpun umat Islam benar-benar berfungsi sebagai jaring pengaman sosial saat musibah melanda.
Musibah Tak Terduga di Tengah Hujan
Peristiwa tragis yang merenggut nyawa Daffa, santri kelas XI Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Ikhlas, Sepande, terjadi pada Jumat (7 November 2025). Kala itu, Daffa sedang berenang di Sungai Kapasan saat hujan lebat mengguyur. Arus sungai yang tiba-tiba membesar dan deras tak mampu diatasi, menjadikannya korban keganasan alam.
Upaya pencarian yang melibatkan berbagai pihak membuahkan hasil kurang dari 24 jam. Jasad Daffa ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, berjarak sekitar 500 meter dari lokasi tenggelam. Evakuasi segera dilakukan ke rumah sakit terdekat, sebelum akhirnya jenazah dibawa ke rumah duka di Desa Tambakrejo untuk disemayamkan.
Zakat Memberi Kehangatan di Tengah Kesedihan
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami dari BAZNAS Sidoarjo turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa ananda Ahmad Daffa Anil Haq," ujar Badruz Zaman saat menyerahkan bantuan. "Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan iman. Bantuan ini mungkin tidak seberapa, namun ini adalah amanah dari para muzaki (pemberi zakat) di Sidoarjo untuk meringankan beban dan menjadi penguat hati keluarga."
Dalam suasana haru, keluarga korban menyambut baik uluran tangan BAZNAS. Ekspresi syukur dan haru tampak jelas pada wajah ayah dan kerabat Daffa, seolah bantuan ini menjadi secercah kehangatan yang menguatkan mereka menghadapi kenyataan pahit.
Kisah almarhum Daffa, yang kini disemayamkan berdampingan dengan makam ibunya yang telah berpulang lebih dahulu, menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya kepedulian. Aksi cepat tanggap BAZNAS Sidoarjo dalam menyalurkan bantuan kepada keluarga yang sedang berduka ini menegaskan peran strategis lembaga zakat dalam penanggulangan bencana dan kemanusiaan.
BAZNAS Sidoarjo bertekad untuk terus hadir di tengah masyarakat, memastikan bahwa dana ZIS tersalurkan tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal, terutama bagi mereka yang tertimpa musibah. Kepedulian adalah panglima, dan zakat adalah wujud nyata kasih sayang sesama.
BERITA11/11/2025 | sudrab
Tepat di Hari Pahlawan, BAZNAS Salurkan Bantuan Biaya Pendidikan Puluhan Siswa
SIDOARJO – Tepat di momentum peringatan Hari Pahlawan, semangat kepahlawanan berwujud nyata di Kabupaten Sidoarjo. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Sidoarjo menyalurkan bantuan biaya pendidikan kepada puluhan siswa dhuafa di dua sekolah dasar, Senin (10/11). Aksi nyata ini menjadi bukti bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang peduli pada masa depan generasi bangsa.
Distribusi bantuan dilaksanakan di SDN Sidodadi, Kecamatan Candi, dan SDN Janti 1, Kecamatan Tulangan. Wakil Ketua I BAZNAS Sidoarjo, KH. M. Luqman Hakiem atau akrab disapa Gus Lukman, memimpin langsung penyaluran di SDN Sidodadi bersama staf pelaksana N. Hafidz. Sementara di SDN Janti 1, penyaluran dipercayakan kepada M. Shofwan, staf BAZNAS Sidoarjo yang tidak kalah dedikasi.
"Di Hari Pahlawan ini, kami ingin meneruskan semangat kepahlawanan dengan cara yang konkret. Para siswa ini adalah pahlawan kecil yang setiap hari berjuang melawan keterbatasan ekonomi untuk terus bersekolah. Mereka layak mendapat dukungan," ujar Gus Lukman dengan penuh empati saat menyerahkan bantuan kepada sembilan siswa di SDN Sidodadi, pukul 09.00-09.45 WIB.
Momen penyerahan bantuan berlangsung penuh haru. Anak-anak yang mengenakan seragam pahlawan—baju merah putih penuh makna—berdiri dengan mata berbinar. Beberapa dari mereka tampak menahan tangis bahagia ketika menerima amplop bantuan dari tangan Gus Lukman. Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar uang, melainkan wujud kepedulian yang menguatkan semangat untuk terus belajar.
Para siswa penerima bantuan ini berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sangat terbatas. Sebagian besar orang tua mereka bekerja sebagai buruh, petani, dan pekerja informal dengan penghasilan tidak menentu. Bantuan biaya pendidikan dari BAZNAS akan digunakan untuk membeli seragam, buku pelajaran, alat tulis, serta memenuhi kebutuhan operasional sekolah lainnya yang kerap menjadi beban berat bagi keluarga mereka.
Kepala Sekolah SDN Sidodadi menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian BAZNAS. "Kami sangat berterima kasih. Banyak siswa kami yang kesulitan membeli perlengkapan sekolah, Bantuan ini sangat membantu meringankan beban mereka dan memotivasi untuk tetap semangat belajar," katanya dengan suara bergetar.
Di SDN Janti 1, antusiasme yang sama tercipta. Para siswa berfoto bersama dengan tangan mengepal tinggi—simbol tekad bulat untuk terus berjuang meraih cita-cita. M. Shofwan yang bertugas di lokasi ini menjelaskan bahwa program bantuan pendidikan merupakan prioritas BAZNAS dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan.
"Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kami yakin, anak-anak yang kami bantu hari ini akan menjadi generasi berkualitas yang kelak dapat membangun daerah dan bangsa," ujar Shofwan dengan optimisme tinggi.
Program bantuan biaya pendidikan ini merupakan bagian dari komitmen BAZNAS Sidoarjo dalam mendistribusikan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara tepat sasaran. Melalui pendekatan yang humanis dan berkelanjutan, BAZNAS tidak hanya memberikan bantuan material, tetapi juga motivasi dan harapan bagi anak-anak untuk terus mengejar mimpi mereka.
Momentum Hari Pahlawan 10 November kini diterjemahkan dalam aksi nyata—membangun masa depan generasi penerus bangsa melalui pendidikan. Karena pahlawan sejati bukan hanya mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang berjuang mencerdaskan anak bangsa di tengah keterbatasan.
BERITA11/11/2025 | sudrab
BAZNAS Jajaki Kolaborasi dengan Bank Jatim Syariah untuk Digitalisasi Penyaluran ZIS
SIDOARJO – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo menjajaki penguatan kolaborasi dengan Bank Jatim Syariah Cabang Sidoarjo dalam mengoptimalkan pengelolaan dan penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Langkah ini ditempuh melalui silaturahmi hangat di kantor sekretariat BAZNAS, Jalan Pahlawan I Nomor 10, Sidokumpul, Kecamatan Sidoarjo, Kamis (6/11).
Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Siti Umi Hanik, Kepala Cabang Bank Jatim Syariah Sidoarjo, yang didampingi sejumlah pejabat bank. Dalam pertemuan tersebut, Umi Hanik menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada BAZNAS Sidoarjo yang telah mempercayai Bank Jatim Syariah sebagai mitra strategis dalam pengelolaan dana ZIS.
"Kami sangat mengapresiasi BAZNAS Sidoarjo yang telah memanfaatkan produk Bank Jatim Syariah, baik dalam rekening penghimpunan ZIS, khususnya zakat, maupun kepercayaan yang diberikan untuk menyalurkan dana kepada mustahik melalui berbagai produk kami," ujar Umi Hanik.
Menurutnya, kerja sama ini bukan sekadar transaksi perbankan biasa, melainkan bagian dari komitmen bersama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui penyaluran dana sosial keagamaan yang tepat sasaran dan akuntabel.
Di sisi lain, Ketua BAZNAS Sidoarjo, M Chasbil Aziz Salju Sodar yang akrab disapa Gus Jazuk, menyambut baik inisiatif Bank Jatim Syariah. Ia menyampaikan terima kasih atas berbagai fasilitasi produk perbankan yang telah memudahkan operasional BAZNAS dalam menjalankan misi filantropi Islam.
"Kami berterima kasih atas dukungan Bank Jatim Syariah yang telah memfasilitasi berbagai produk untuk memudahkan kami dalam mengelola dan menyalurkan dana umat," kata Gus Jazuk.
Lebih jauh, Gus Jazuk menyampaikan harapan besar terhadap pengembangan kolaborasi ke depan. Ia mengusulkan agar berbagai produk bank bisa dikolaborasikan secara lebih luas, terutama dalam aspek digitalisasi penyaluran ZIS kepada mustahik, baik perorangan maupun institusi.
"Ke depan, kami berharap ada kolaborasi yang lebih masif, misalnya dalam digitalisasi penyaluran ZIS ke mustahik perorangan maupun institusi seperti rekening masjid dan lembaga sosial lainnya. Juga kemungkinan digitalisasi pembayaran atau penghimpunan ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf) melalui layanan mobile banking," jelasnya.
Digitalisasi ini dinilai sangat penting untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan jangkauan penyaluran dana sosial keagamaan. Dengan sistem digital, mustahik dapat menerima bantuan secara lebih cepat dan akuntabel, sementara muzaki (pemberi zakat) dapat menyalurkan dana dengan lebih mudah melalui platform perbankan digital.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut M Ilhamuddin dan Ach Saleh, masing-masing Wakil Ketua IV dan Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo. Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan BAZNAS dalam membangun sinergi strategis dengan lembaga keuangan syariah.
Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi kedua lembaga untuk memperkuat komitmen dalam mengoptimalkan pengelolaan dana umat. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan produk perbankan syariah yang terus berkembang, diharapkan penghimpunan dan penyaluran ZIS dapat lebih efektif menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Kolaborasi antara BAZNAS Sidoarjo dan Bank Jatim Syariah ini menjadi contoh baik bagaimana lembaga amil zakat dan perbankan syariah dapat bersinergi dalam mewujudkan kesejahteraan sosial berbasis nilai-nilai Islam. Ke depan, kerja sama ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengoptimalkan potensi filantropi Islam untuk kemajuan umat.
BERITA11/11/2025 | sudrab
Harapan Ibu Paini (88 tahun), Air Mata di Bawah Atap yang Ambruk
SIDOARJO – Kedungsugo, Prambon. Di usianya yang telah memasuki 88 tahun, Ibu Paini seharusnya menikmati hari-hari tua dalam ketenangan dan kenyamanan. Namun, nasib berkata lain. Bagi warga Desa Kedungsugo, Prambon, yang satu ini, hidup adalah pertarungan harian melawan kerentaan tubuh dan kerasnya bangunan tempat tinggal.
Lima bulan terakhir, rumah yang ia tempati sendirian (kecuali perhatian harian dari cucunya) berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Atap rumahnya ambruk, meninggalkan lubang menganga yang tak hanya mengundang dingin dan hujan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwanya.
"Kami melihat langsung, Bu Paini tinggal di kondisi yang sangat memprihatinkan. Atapnya rusak parah, membuat rumahnya rentan terhadap cuaca. Ditambah lagi, beliau tidak memiliki fasilitas sanitasi (MCK) yang layak sama sekali," ujar Bapak Ach. Saleh, Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, setelah melakukan asesmen di lokasi.
Keikhlasan Cucu Menopang Hidup
Ibu Paini adalah potret nyata dari kelompok yang paling rentan. Sebagai lansia sebatang kara, ia tidak memiliki sumber penghasilan tetap. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, ia sepenuhnya mengandalkan keikhlasan dan bantuan dari cucunya. Keterbatasan ekonomi cucu beliau, yang juga berjuang keras, membuat upaya perbaikan rumah mustahil dilakukan tanpa bantuan pihak luar.
Tim Asesmen BAZNAS Sidoarjo, yang juga melibatkan Bapak Achmad Richie (Staf Pelaksana), mencatat bahwa kerusakan ini bukan hanya bersifat kosmetik, tetapi sudah mencapai tahap darurat. Kondisi atap yang ambruk dan ketiadaan sanitasi menjadi dua masalah utama yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Ketiadaan fasilitas MCK yang layak, apalagi bagi lansia, adalah masalah martabat dan kesehatan yang tidak bisa ditunda.
"Bayangkan, di usia senja, beliau harus menghadapi risiko infeksi dan ketidaknyamanan hanya untuk kebutuhan dasar. Ini yang membuat kami memutuskan ini adalah RTLH prioritas utama yang harus segera kami tangani," tambah Achmad Richie.
Zakat Umat Menghadirkan Solusi
Setelah melihat kondisi yang memilukan ini, BAZNAS Sidoarjo bertindak cepat. Hasil asesmen menyimpulkan bahwa rumah Ibu Paini dikategorikan sebagai Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan layak menerima bantuan program Bedah Rumah Total.
Program ini dirancang tidak hanya untuk sekadar menambal, tetapi untuk merenovasi total struktur rumah, memastikan rumah itu aman dan kokoh kembali. Yang paling penting, program ini akan mencakup pembangunan fasilitas sanitasi yang layak dan memadai. Ini adalah langkah krusial untuk mengembalikan martabat dan melindungi kesehatan Ibu Paini.
Intervensi filantropis ini didanai sepenuhnya dari dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang dihimpun dari masyarakat Sidoarjo. Kisah Ibu Paini menjadi pengingat nyata betapa dana sosial keagamaan ini memiliki peran vital dalam merespon derita kemanusiaan di lingkungan terdekat. Zakat tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan air mata dan mendirikan kembali harapan yang roboh.
Kini, di Desa Kedungsugo, harapan yang sempat ambruk bersama atap rumahnya kini perlahan mulai tegak kembali, disokong oleh kepedulian bersama. Bantuan ini adalah janji bahwa di tengah kesulitan, tidak ada seorang pun yang harus berjuang sendirian.
BERITA10/11/2025 | sudrab
Lima Ponpes Program SAJADAH Terima Daging DAM BAZNAS 2025: Wujud Nyata Perhatian terhadap Kesehatan Santri
SIDOARJO – Dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan santri di Jawa Timur, lima pondok pesantren yang tergabung dalam program SAJADAH (Santri Jatim Sehat dan Berkah) menerima bantuan daging DAM (Denda Haji) dari BAZNAS Sidoarjo tahun 2025. Program prioritas Gubernur Jawa Timur ini menjadi jawaban konkret atas temuan kesehatan santri yang memerlukan perhatian serius.
Penyaluran dilakukan secara bertahap. BAZNAS Sidoarjo pertama kali menyalurkan bantuan nutrisi kepada PP Al Makky dan PP Darul Mubarok pada Senin, 3 November 2025. Rangkaian penyaluran berlanjut pada Kamis, 6 November 2025, kepada tiga pondok pesantren lainnya: Ponpes Nurur Rohman di Gedangan, Al Huda di Sidomojo Krian, dan Tahfidzul Qur'an Utrujjah di Tarik.
M. Shofwan, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang memimpin langsung kegiatan ini, menegaskan bahwa program bukan sekadar distribusi bantuan. "Ini adalah respons terhadap data lapangan. Hasil Survei Mawas Diri menunjukkan anemia dan kekurangan protein hewani menjadi masalah nyata di kalangan santri penghafal Quran," jelasnya dengan tegas.
Dari Data ke Aksi Nyata
Program SAJADAH berangkat dari temuan Survei Mawas Diri yang mengungkap kondisi kesehatan santri yang memprihatinkan. Anemia ditemukan pada 30-45% santri putri, sementara kekurangan gizi dan protein hewani menjadi tantangan yang dihadapi hampir seluruh pondok pesantren yang disurvei.
"Kami tidak bisa tinggal diam melihat data ini. Para santri adalah aset bangsa yang sedang menempuh pendidikan agama. Mereka butuh tubuh yang sehat untuk menghafal Al-Quran dan menimba ilmu," ujar Shofwan menekankan urgensi program.
Tahun 2025, BAZNAS Sidoarjo mengalokasikan 225 paket daging DAM dari BAZNAS RI. Setiap paket berisi daging berkualitas dalam kemasan pouch higienis yang siap konsumsi, memastikan kemudahan dan keamanan bagi penerima manfaat.
Distribusi yang Komprehensif
Keistimewaan program ini terletak pada cakupan distribusinya yang tidak hanya menyasar santri. BAZNAS Sidoarjo merancang penyaluran dengan prinsip keadilan sosial, menjangkau berbagai kelompok rentan:
Santri Pondok Pesantren – Lima pondok dalam program SAJADAH menjadi prioritas utama, memastikan asupan protein untuk mendukung aktivitas belajar dan menghafal Al-Quran.
Keluarga Ekonomi Ekstrem – Keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi paling sulit mendapat prioritas untuk meningkatkan kualitas konsumsi harian mereka.
Pekerja Ojek Online – Kelompok pekerja informal yang terdampak kondisi ekonomi mendapat perhatian sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Ibu Hamil – Langkah strategis pencegahan stunting dimulai dari memastikan ibu hamil mendapat asupan protein hewani yang memadai.
"Protein hewani untuk ibu hamil adalah investasi untuk mencegah stunting pada anak-anak Indonesia di masa depan. Sementara untuk santri, nutrisi berkualitas adalah fondasi kekuatan fisik dan mental dalam menempuh pendidikan," Shofwan menjelaskan filosofi di balik distribusi yang inklusif ini.
Filantropi sebagai Investasi Generasi
Program penyaluran daging DAM ini melampaui makna bantuan sesaat. Ini adalah komitmen jangka panjang membangun generasi unggul yang sehat jasmani dan rohani. Setiap paket yang diserahkan membawa harapan bahwa para santri akan tumbuh dengan kondisi kesehatan optimal, mampu menjalankan proses pembelajaran dengan maksimal, dan pada akhirnya menjadi pemimpin masa depan yang berakhlak mulia.
BAZNAS Sidoarjo membuktikan bahwa zakat, infak, dan sedekah bukan hanya ritual keagamaan, tetapi instrumen pembangunan sosial yang terukur dan berdampak nyata. Program SAJADAH menjadi model bagaimana lembaga filantropi Islam dapat menjawab persoalan konkret masyarakat dengan data, perencanaan matang, dan pelaksanaan yang sistematis.
Dengan langkah ini, harapan besar terpancar: santri-santri Indonesia akan tumbuh sehat, kuat, dan siap menjadi generasi penerus yang membawa keberkahan bagi bangsa.
BERITA10/11/2025 | sudrab
Kepedulian untuk Pejuang Jalanan: BAZNAS Sidoarjo Salurkan Daging DAM kepada 50 Pengemudi Ojek Online Perempuan
SIDOARJO – Di balik hiruk-pikuk jalanan Sidoarjo, ada kisah perjuangan sunyi yang jarang terdengar. Perempuan-perempuan tangguh berhelm dan berjaket aplikator, mengayuh motor di bawah terik matahari dan guyuran hujan, demi menghidupi keluarga. Selasa pagi (4/11/2025), perjuangan mereka mendapat apresiasi nyata ketika BAZNAS Kabupaten Sidoarjo menyalurkan 50 paket daging kambing DAM Haji 2025 kepada pengemudi ojek online perempuan yang tergabung dalam Gerakan Sayang Perempuan Ojek Online Sidoarjo (GAS POL).
Acara yang berlangsung di halaman Kantor Sekretariat BAZNAS Sidoarjo, Jl. Pahlawan I No. 10, diwarnai kehangatan dan air mata haru. Lima puluh perempuan berseragam hijau dan oranye—simbol profesi yang mereka tekuni lintas platform—berkumpul untuk menerima paket berkah yang telah lama dinanti. Bagi mereka, kotak kuning berisi daging kambing siap saji bukan sekadar bantuan material, melainkan pengakuan bahwa perjuangan mereka sebagai tulang punggung keluarga dilihat dan dihargai.
Ibu Ani Anggorowati, Ketua GAS POL yang tinggal di Pilang Wonoayu, menceritakan proses seleksi penerima bantuan. Dari total lebih dari 200 anggota komunitas, hanya 50 yang terpilih berdasarkan kriteria khusus. "Karena alokasi terbatas, kami memprioritaskan anggota yang single parent dan berusia 50 tahun ke atas—mereka yang paling membutuhkan dukungan nutrisi untuk tetap kuat menjalani profesi ini," jelasnya dengan mata berkaca-kaca.
Ani memahami betul beratnya beban yang dipikul para perempuan pejuang jalanan ini. Setiap hari mereka mengayuh motor melawan cuaca, melawan lelah, melawan stigma, demi sesuap nasi untuk anak-anak dan keluarga di rumah. Profesi sebagai pengemudi ojek online bukan pilihan mudah, apalagi bagi perempuan yang harus menyeimbangkan peran sebagai pencari nafkah dan ibu rumah tangga.
"Terima kasih, BAZNAS. Semoga mendapatkan keberkahan dan limpahan rezeki untuk semuanya," ucap Ani mewakili seluruh anggota GAS POL. Rasa syukur terpancar dari setiap wajah yang hadir. Paket pouch berisi daging kambing siap saji yang diterima menjadi simbol solidaritas dari masyarakat lebih luas melalui zakat yang diamanahkan kepada BAZNAS.
M. Chasbil Aziz Salju Sodar (Gus Jazuk) yang hadir menyaksikan acara penyerahan, memberikan apresiasi tulus terhadap kekompakan komunitas. "Solidaritas para pengojek online lintas platform ini patut diacungi jempol. Mereka membuktikan bahwa persatuan dalam kebaikan bisa melampaui batas-batas kompetisi," ujarnya.
Gus Jazuk berharap program ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dalam komunitas. Ia menegaskan bahwa para perempuan pekerja rentan ini layak mendapat perhatian khusus karena mereka berjuang di garda terdepan ekonomi keluarga.
Program daging kambing DAM tahun 2025 merupakan bagian dari 225 paket siap saji berkualitas yang dialokasikan BAZNAS RI untuk BAZNAS Sidoarjo. Distribusi dirancang komprehensif untuk menjangkau berbagai kelompok rentan, termasuk 49 keluarga ekonomi ekstrem, ibu hamil untuk pencegahan stunting, dan santri pondok pesantren.
Setiap paket telah diproses secara higienis dalam kemasan pouch siap saji, memastikan penerima manfaat dapat langsung mengonsumsinya dengan aman. Di tengah tantangan ekonomi yang kian berat, program ini menjadi bukti nyata bahwa zakat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi instrumen pemberdayaan yang mengubah kehidupan—satu paket, satu senyum, satu harapan untuk hari esok yang lebih baik bagi para pejuang jalanan Sidoarjo.
BERITA04/11/2025 | sudrab
Asupan Gizi Santri: BAZNAS Sidoarjo Salurkan Daging DAM untuk Santri
SIDOARJO – Pagi yang cerah di Kecamatan Jabon, Minggu (3/11/2025), menjadi saksi kepedulian BAZNAS Kabupaten Sidoarjo terhadap kesehatan santri. Melalui program penyaluran daging DAM (Denda Haji) tahun 2025, BAZNAS Sidoarjo menyalurkan bantuan nutrisi kepada santri di dua pondok pesantren: PP Al Makky dan PP Darul Mubarok.
M. Shofwan, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, memimpin langsung kegiatan penyaluran ini sebagai wujud komitmen lembaga dalam mendukung program SAJADAH (Santri Jatim Sehat dan Berkah), program prioritas Gubernur Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas kesehatan santri.
Respons terhadap Temuan Survei
Program ini berangkat dari hasil Survei Mawas Diri (SMD) SAJADAH yang mengungkap permasalahan kesehatan di kalangan santri. Survei menemukan bahwa anemia dan kekurangan protein hewani menjadi tantangan serius yang dihadapi para penghafal Quran di pondok pesantren.
"Temuan ini mendorong kami untuk mengambil langkah nyata. Penyaluran daging DAM ini menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi santri," jelas Shofwan.
Tahun 2025, program SAJADAH menargetkan lima pondok pesantren di Sidoarjo, dengan BAZNAS Sidoarjo sebagai mitra integral dalam pelaksanaannya.
Penyaluran di Dua Pondok Pesantren
Di PP Al Makky, penyerahan dilakukan di ruang tamu yang sederhana namun penuh kehangatan. Shofwan tidak hanya menyerahkan paket bantuan, tetapi juga memberikan edukasi singkat tentang pentingnya protein hewani bagi kesehatan dan konsentrasi dalam menghafal Al-Quran.
"Protein hewani bukan sekadar nutrisi, tetapi investasi untuk kualitas hafalan dan kesehatan jangka panjang santri," ujarnya, sejalan dengan semangat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang menjadi fondasi program SAJADAH.
Penyaluran kemudian dilanjutkan ke PP Darul Mubarok yang lokasinya tidak jauh dari PP Al Makky. Para santri menyambut kedatangan tim dengan antusias. Shofwan memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan makna filantropi dalam Islam, bahwa zakat adalah jembatan kasih sayang antara yang berkelebihan dengan yang membutuhkan.
Distribusi Komprehensif
Program daging DAM tahun ini mencakup 225 paket yang dialokasikan BAZNAS RI untuk BAZNAS Sidoarjo. Setiap paket berisi daging berkualitas yang telah diproses secara higienis dalam kemasan pouch siap saji, memudahkan penerima manfaat dalam mengonsumsinya.
Distribusi tidak hanya menyasar santri pondok pesantren, tetapi juga mencakup berbagai kelompok rentan lainnya:
- 49 keluarga dari kategori ekonomi ekstrem
- Pekerja ojek online yang terdampak kondisi ekonomi
- Ibu hamil sebagai upaya pencegahan stunting
"Untuk ibu hamil, asupan protein hewani sangat penting dalam mencegah stunting pada generasi mendatang. Sementara untuk santri, nutrisi berkualitas menjadi pondasi kekuatan fisik dan mental dalam menempuh pendidikan agama," jelas Shofwan.
Investasi untuk Masa Depan
Program penyaluran daging DAM ini merupakan bukti bahwa filantropi bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan komitmen jangka panjang untuk membangun generasi yang unggul, sehat secara jasmani dan rohani.
Setiap paket yang disalurkan membawa harapan besar: bahwa para santri akan tumbuh dengan kondisi kesehatan yang optimal, sehingga dapat menjalankan proses pembelajaran dengan lebih baik dan pada akhirnya menjadi pemimpin masa depan yang berakhlak mulia.
Di tengah kesibukan program penyaluran, terlihat jelas bahwa zakat bukan hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga menjadi investasi untuk masa depan yang lebih baik—satu paket, satu langkah menuju Santri Jatim yang sehat dan berkah.
BERITA04/11/2025 | sudrab
Assesment Rumah Tak Layak Huni: Menggapai Asa di Atap yang Lapuk
Sidoarjo, 3 November 2025 – Tim Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo, di bawah koordinasi Achmad Richie, Staf Pelaksana, turun langsung ke lapangan untuk melakukan asesmen dan survei lima unit Rumah Tak Layak Huni (RTLH) di beberapa kecamatan. Kegiatan ini menjadi potret nyata perjuangan berat keluarga dhuafa di Sidoarjo yang setiap harinya harus bertaruh nyawa di bawah atap yang lapuk, bahkan berisiko ambruk. Misi kemanusiaan ini bukan sekadar pendataan, melainkan upaya mendalam untuk mengembalikan martabat dan harapan hidup mereka.
Perjuangan di Bawah Ancaman Kebocoran
Salah satu kisah yang disorot adalah perjuangan M. Hasannudin, seorang driver freelance di Desa Semambung, Wonoayu. Dengan penghasilan yang tidak menentu, Hasannudin harus berbagi rumah bersama anak dan istrinya di bawah ancaman atap yang sudah keropos. "Kayu-kayu sudah lapuk, saat hujan turun kebocoran terjadi di mana-mana," ujar Hasannudin, yang terpaksa merelakan rumahnya menjadi basah demi bertahan hidup. Kondisi serupa, namun dengan tingkat kerusakan struktural yang lebih parah, menimpa Bapak Sholeh Mukarom di Desa Jeruk Legi, Balongbendo.
Bapak Sholeh, meski sudah mendapatkan bantuan sosial seperti KIS dan BPNT, tidak bisa tenang. Dinding belakang rumahnya mengalami retak besar dari atas ke bawah, bahkan batu bata di beberapa bagian sudah terlepas. Kondisi atap depan dan belakang mulai mengkhawatirkan, dengan genteng yang merosot, membuat rembesan dan kebocoran menjadi masalah kronis. Kerusakan ini mengancam keselamatan fisik keluarga, menuntut intervensi cepat sebelum bencana terjadi.
Beban Ganda Kemiskinan dan Sakit
Di Desa Tropodo, Krian, tim BAZNAS menyaksikan langsung keprihatinan yang didokumentasikan dalam video, yaitu kondisi rumah Ibu Masriyah. Rumah yang hanya berdinding gedek dan papan serta beratapkan terpal itu dihuni bersama suaminya yang telah menderita stroke selama 3,5 tahun Suami Ibu Masriyah tidak bisa bekerja, menjadikan sang istri sebagai penopang tunggal keluarga. RTLH ini menjadi simbol ganda kerentanan: kemiskinan struktural yang diperburuk oleh beban biaya dan kebutuhan perawatan medis jangka panjang.
Di Desa Jeruk Legi, Balongbendo, Bapak Subarjo berjuang menafkahi keluarga sebagai penjaga wahana permainan hiburan dengan sistem upah yang sangat kecil: hanya Rp20.000 dari setiap Rp100.000 setoran. Sementara istrinya, Ibu Sutrani, adalah ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Beban ekonomi ini diperparah oleh kondisi kesehatan Bapak Subarjo yang menurun; tangannya sering gemetar, namun ketakutan mental dan ketiadaan biaya menghalanginya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.
Lansia Sendiri di Bawah Atap yang Siap Roboh
Kisah paling memilukan mungkin datang dari Desa Kalimati, Tarik, tempat Bapak Supanji (66 tahun) tinggal sendirian. Bapak Supanji sudah tidak bekerja karena sakit-sakitan, hidup dari bantuan permakanan. Atap rumahnya berada dalam kondisi reot dan siap roboh, sebuah ancaman nyata bagi keselamatan fisik beliau. BAZNAS Sidoarjo menggarisbawahi bahwa penanganan kasus Bapak Supanji harus komprehensif, tidak hanya perbaikan fisik rumah, tetapi juga pendampingan sosial bagi lansia yang hidup sebatang kara.
Asesmen oleh tim BAZNAS Sidoarjo memastikan bahwa RTLH bukan hanya masalah genteng bocor, tetapi masalah martabat kemanusiaan. "Setiap rumah yang kami datangi adalah kisah perjuangan, dan mereka berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak dan aman," tegas Achmad Richie. Hasil survei ini akan menjadi dasar penyaluran dana zakat dan infak untuk program rehabilitasi RTLH. Diharapkan, melalui program ini, kelima keluarga ini dapat menyambut hari-hari mereka dengan fondasi rumah yang kokoh, menggapai asa baru dari bawah atap yang sebelumnya lapuk. BAZNAS Sidoarjo mengajak masyarakat untuk terus mendukung program-program filantropi ini demi terciptanya kesejahteraan merata di Sidoarjo.
BERITA03/11/2025 | sudrab
Daging dari Langit – Kisah Puluhan Lansia Sebatang Kara yang Kembali Merasakan Protein di Meja Makan
SIDOARJO, 31 Oktober 2025– Di balik hiruk-pikuk kota industri, tersembunyi 49 cerita tentang kelaparan yang tak terucap. Mereka adalah wajah miskin ekstrem BAZNAS Sidoarjo 2025: lansia sebatang kara, tubuh rapuh oleh usia dan penyakit, yang lama tak lagi tahu rasa daging. Hingga akhir Oktober ini, 225 paket Daging DAM (Denda Haji) higienis siap saji—alokasi BAZNAS RI—tiba seperti hujan rahmat di 18 kecamatan. Ini bukan sekadar bantuan. Ini adalah nyawa yang diselamatkan.
“Setiap pouch ini adalah janji kami: tak ada lagi lansia yang tidur dengan perut kosong karena tak mampu beli protein,” tegas Ahmad Hamdani, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, saat memimpin distribusi perdana di Desa Jemirahan, Jabon. “Kami verifikasi satu per satu: sebatang kara, di atas 70 tahun, sakit kronis, tak punya pendapatan. Bu Kujaimah di Jemirahan jadi penerima pertama. Rumahnya cuma 3x4 meter, atap bocor, lantai tanah. Sudah lama tak makan daging.”
Di Gagangpanjang, Tangulangin, Ibu Kasih (76) menyambut tim dengan tangan gemetar rematik. “Alhamdulillah, ini pertama kali sejak suami meninggal 12 tahun lalu,” katanya, mata berkaca saat meraba pouch berlabel “Daging Kambing Olahan Higienis”. Di Grogol, Tulangan, Bapak Hartadi Wibowo (78)—diabetes, kursi roda, hidup sendirian—tersenyum tipis: “Besok saya masak rendang kecil-kecilan.”
Ahmad Hamdani tak berhenti di situ. “Kami tak cuma serahkan paket. Kami duduk, dengar cerita mereka. **Ibu Suwaseh di Kere, Krembung, buta katarak, tak punya siapa-siapa. Bapak Lisnanto di Klantingsari, Tarik, gangguan pencernaan kronis. Ibu Maslikah di Mergobener, asma parah. Semua masuk daftar 49 prioritas.” Prosesnya ketat: RT/RW verifikasi, kader desa konfirmasi, BAZNAS cross-check. “Transparansi adalah nyawa program ini,” tambah Hamdani.
Distribusi berlanjut ke Segodohbancang (Bapak Kartiman & Ibu Muah), Balongbendo (Bapak Ngadiman), hingga Buduran (Ibu Muslikah). Puji Astutik di Kalijaten, Taman—penerima ke-44—berbisik: “Anakku merantau, tak ada kabar. Paket ini seperti anakku pulang.” Total 49 keluarga ekstrem dari 225 paket telah tersalurkan per 31 Oktober. Sisanya? Menanti OJOL terdampak, santri pondok, dan ibu hamil anti-stunting.
“Ini baru awal,” tandas Hamdani sambil menutup catatan lapangan. “DAM 2025 bukan tentang angka, tapi tentang martabat. Lansia yang tak lagi harus memilih antara obat atau nasi. Yang tak lagi menahan lapar demi hemat uang. Mereka adalah ibu kita, bapak kita.”
Di bawah langit Sidoarjo yang kini terasa lebih cerah, Puluhan nama itu kini punya cerita baru: dari kelaparan menjadi syukur, dari terlupakan menjadi terlindungi. Daging DAM bukan sekadar protein. Ia adalah cinta yang dikemas rapi, disalurkan tepat waktu.
BERITA31/10/2025 | sudrab
Kolaborasi TKSK-BAZNAS: Harapan Baru bagi Pejuang Kanker di Krian
SIDOARJO – Di balik lorong-lorong sempit pemukiman Gresikan, Krian, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang tak pernah menyerah. Ibu Siti Khadijah, 58 tahun, warga Desa Seketi, Balongbendo, kini menjalani hari-harinya berbaring di sebuah kamar kos sederhana. Diagnosis kanker payudara yang diterimanya dua tahun lalu bukan hanya mengubah hidupnya, tetapi juga menguji setiap inci kekuatan yang tersisa.
Kamis, 30 Oktober 2025, pintu harapan itu terbuka. Tim BAZNAS Sidoarjo yang dipimpin langsung oleh M. Ilhammuddin, Wakil Ketua IV BAZNAS Sidoarjo, mendatangi kediaman Ibu Siti untuk menyalurkan bantuan biaya kesehatan. Kunjungan ini bukanlah program insidental, melainkan buah dari kolaborasi strategis antara BAZNAS dengan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Krian yang dikoordinir oleh Saudara Rizal.
"Kolaborasi dengan TKSK memungkinkan kami menjangkau mustahik yang benar-benar membutuhkan secara tepat sasaran," ujar M. Ilhammuddin saat menyerahkan paket bantuan kepada Ibu Siti. "Asesmen yang dilakukan oleh TKSK sangat membantu kami memahami kondisi riil di lapangan, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan."
Kondisi Ibu Siti memang memprihatinkan. Setelah suaminya meninggal lima tahun lalu, ia hidup dari kiriman seadanya dari anak-anaknya yang bekerja di luar kota. Biaya sewa kos Rp 400 ribu per bulan, ditambah kebutuhan pampers dewasa yang harus diganti 3-4 kali sehari, obat-obatan, dan biaya transportasi untuk kontrol rutin ke rumah sakit, membuat kehidupan sehari-harinya menjadi perhitungan yang sangat ketat. Seringkali, Ibu Siti harus menunda kontrol kesehatan karena tidak memiliki biaya transportasi.
"Saya sudah pasrah, Pak. Kadang saya berpikir lebih baik saya tidak merepotkan anak-anak," tutur Ibu Siti dengan suara bergetar. Namun, kehadiran tim BAZNAS Sidoarjo pagi itu membawa angin segar. Paket bantuan berisi perlengkapan pampers untuk kebutuhan satu bulan, ditambah uang tunai untuk biaya perawatan dan kontrol kesehatan rutin, diterima Ibu Siti dengan mata berkaca-kaca.
Yang membuat program ini istimewa adalah pendekatan kolaboratif yang dibangun. TKSK Kecamatan Krian, sebagai garda terdepan dalam identifikasi warga yang membutuhkan bantuan sosial, melakukan asesmen mendalam terhadap kondisi Ibu Siti. Hasilnya kemudian direkomendasikan kepada BAZNAS Sidoarjo untuk mendapatkan intervensi program yang sesuai. "Ini adalah model kolaborasi yang efektif," jelas Rizal, TKSK Kecamatan Krian. "Kami bekerja di tingkat akar rumput, mengidentifikasi kebutuhan, sementara BAZNAS memiliki sumber daya untuk merealisasikan bantuan."
M. Ilhammuddin menegaskan bahwa program bantuan kesehatan untuk Ibu Siti tidak berhenti di sini. "Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan perawatan secara berkala. Ibu Siti akan terus kami dampingi, memastikan beliau dapat menjalani pengobatan dengan lebih tenang tanpa harus mengkhawatirkan biaya pendukung," tegasnya.
Model kolaborasi TKSK-BAZNAS ini menjadi prototype yang layak dikembangkan lebih luas. Dengan memanfaatkan jaringan TKSK di 18 kecamatan se-Kabupaten Sidoarjo, BAZNAS dapat memetakan kebutuhan mustahik secara lebih akurat dan komprehensif. Hasilnya, penyaluran bantuan menjadi lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.
Saat tim BAZNAS berpamitan, Ibu Siti menggenggam erat tangan M. Ilhammuddin. "Semoga Allah membalas kebaikan Bapak semua. Hari ini saya merasa tidak sendirian lagi," doanya tulus. Kalimat sederhana itu merangkum esensi sejati dari filantrophi—bukan sekadar menyalurkan bantuan materi, tetapi memulihkan harapan dan mengembalikan martabat kemanusiaan.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering melupakan sesama, kolaborasi TKSK-BAZNAS menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial masih hidup dan bernapas. Dan bagi Ibu Siti Khadijah, Kamis pagi itu bukan sekadar hari biasa—ia adalah hari ketika harapan datang mengetuk pintu, membawa pesan bahwa takdir masih menyimpan kebaikan untuk mereka yang gigih bertahan.
BERITA31/10/2025 | sudrab
Memugar Martabat: Ketika Zakat Mengubah Remah Menjadi Harapan Baru di Gedangan
SIDOARJO – Dinding-dinding yang lapuk, atap berkarat yang menganga, Atap rendah dan lantai yang selalu lembap. Itulah pemandangan suram yang selama bertahun-tahun menjadi latar belakang hidup Bapak Supriyono, warga Gedangan, Sidoarjo. Rumahnya, dalam istilah program pemerintah, adalah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)—sebuah simbol nyata perjuangan melawan kemiskinan dan kerentanan.
Namun, kisah kelam itu kini telah berakhir. Berkat tangan dingin dan komitmen BAZNAS Sidoarjo, di bawah kepemimpinan M. Chasbil Aziz Salju Sodar, atau yang akrab disapa Gus Jazuk, rumah Bapak Supriyono telah mengalami metamorfosis yang menggetarkan jiwa. Ini bukan sekadar perbaikan fisik, ini adalah restorasi martabat.
Kontras yang Menghujam Jantung
Dokumen before menunjukkan betapa mendesaknya intervensi ini. Cat tembok yang mengupas seperti kulit yang sakit, serta bagian belakang rumah yang hanya beratapkan seng lapuk, membuat hunian itu rentan terhadap cuaca dan penyakit. Setiap hari di sana adalah pertarungan untuk bertahan hidup.
Namun, saksikanlah kontrasnya!
Dalam seremoni serah terima yang hangat, Gus Jazuk berdiri di depan rumah yang kini berwarna hijau cerah, segar, dan kokoh. Atap genteng metal yang aman telah menggantikan seng berkarat. Jendela dan pintu kayu yang baru tidak hanya menjamin keamanan, tetapi juga membawa cahaya alami yang melimpah—mengusir kegelapan yang selama ini menyelimuti keluarga tersebut.
“Ini bukan hanya bangunan,” ujar Gus Jazuk dengan nada penuh penekanan, “Ini adalah amanah dari zakat, infak, dan sedekah masyarakat Sidoarjo. Tugas kami memastikan dana ini berbuah ketenangan dan martabat bagi umat.”
Dampak Lebih Dalam: Restorasi Kemanusiaan
Pada perspektif pemberdayaan masyarakat hal ini lebih dari sekadar semen dan baja ringan. Rehabilitasi RTLH ini adalah titik balik psikososial.
Bayangkan, rasa malu karena memiliki rumah yang runtuh, kini berganti menjadi rasa bangga dan syukur. Dalam video serah terima, terlihat jelas raut wajah Bapak Supriyono dan istrinya yang memancarkan kebahagiaan sejati. "Alhamdulillah," adalah satu kata penuh makna yang terucap, mewakili pemulihan harga diri yang sempat terenggut oleh kemiskinan dan keterbatasan.
Program ini membuktikan bahwa bantuan yang tepat sasaran mampu menjadi katalisator pemberdayaan. Dengan fondasi hidup yang stabil dan aman, keluarga Bapak Supriyono kini memiliki energi dan fokus yang utuh untuk meningkatkan aspek kehidupan lainnya, seperti pekerjaan dan pendidikan anak. Ancaman kesehatan yang sering timbul dari lingkungan lembap dan tidak sehat pun tereliminasi.
Zakat Sebagai Solusi Struktural
Kepemimpinan Gus Jazuk dalam mengawal program RTLH ini memberikan pelajaran penting: Zakat adalah instrumen filantropi Islam yang harus digunakan secara strategis untuk mengatasi masalah struktural kemiskinan.
Plakat BAZNAS Sidoarjo yang kini terpasang di dinding rumah baru Bapak Supriyono adalah simbol: kesadaran kolektif masyarakat Sidoarjo telah menciptakan keajaiban nyata. Transformasi dari "remah" (puing) menjadi "rumah" (hunian layak) ini menegaskan peran BAZNAS sebagai jembatan kemanusiaan yang efektif.
Kisah Bapak Supriyono adalah undangan terbuka bagi kita semua. Ini adalah bukti bahwa melalui sinergi dan ketulusan, kita bisa mengubah rumah kumuh menjadi istana kecil harapan, mengembalikan senyum, dan menegakkan kembali martabat setiap warga negara.
BERITA30/10/2025 | sudrab
Salurkan Via Transfer Bank, BAZNAS Sidoarjo Pastikan Bantuan Tepat Sasaran dan Bermartabat
SIDOARJO— Inovasi penyaluran bantuan zakat kini menghadirkan wajah baru filantropi yang lebih efisien dan bermartabat. BAZNAS Kabupaten Sidoarjo membuktikan bahwa teknologi digital dapat menjadi jembatan kemanusiaan yang efektif melalui program bantuan biaya hidup untuk fakir miskin via transfer bank. Selasa (28/10/2025), tim lapangan BAZNAS Sidoarjo kembali menjalankan misinya mengunjungi 10 penerima manfaat di wilayah Jabon dan Krembung, memastikan setiap rupiah zakat mengalir tepat ke tangan yang membutuhkan.
Ahmad Hamdani, M. Sofwan, Syukron In'am, dan Rita Defani—empat staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo—memulai perjalanan mereka pagi itu dengan didampingi Ibu Miftah dari Bank Jatim Syariah. Berbeda dengan pola penyaluran konvensional, bantuan kali ini ditransfer langsung ke rekening para mustahik, mengurangi risiko kehilangan sekaligus memberikan fleksibilitas bagi penerima dalam mengelola dana sesuai kebutuhan mendesak mereka.
"Sistem transfer bank ini bukan hanya soal efisiensi administratif, tetapi juga tentang menjaga martabat penerima. Mereka tidak perlu mengantre panjang atau menerima bantuan di hadapan banyak orang. Cukup dengan notifikasi di ponsel, bantuan langsung masuk ke rekening mereka," jelas salah satu staf pelaksana saat mendampingi Bu Ngatimah di Desa Semambung, Kecamatan Jabon.
Dari total 49 penerima manfaat rutin program bantuan biaya hidup fakir miskin, 10 di antaranya dikunjungi hari itu. Daftar penerima meliputi Much Chamim (Desa Sekardangan), Bu Ngatimah (Semambung), Bu Kujaimah dan Bu Fatemah (Jemirahan), Bu Musalmah dan Bapak Ahmad Jainuri (Kedungcangkring)—semua di Kecamatan Jabon. Sementara di Kecamatan Krembung, bantuan mengalir ke Bu Matpuah (Lemujut), Bu Emi Sulasih (Krembung), Bu Saminah (Tambakrejo), dan Bapak Suyatno (Cangkring).
Yang membuat program ini berbeda adalah proses seleksi ketatnya. Setiap penerima manfaat melewati asesmen berjenjang yang komprehensif, memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan. Tim surveyor BAZNAS Sidoarjo melakukan verifikasi lapangan, memeriksa kondisi ekonomi, sosial, dan kesehatan calon penerima sebelum nama mereka masuk dalam daftar penerima tetap.
Di rumah sederhana Bu Kujaimah yang berdinding retak, terlihat jelas bagaimana bantuan ini menjadi nafas kehidupan. Perempuan paruh baya itu menyambut tim BAZNAS dengan senyum lega. "Alhamdulillah, bantuan ini sangat membantu untuk beli kebutuhan sehari-hari. Saya tidak perlu keluar rumah, uangnya langsung masuk rekening," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kehadiran Ibu Miftah dari Bank Jatim Syariah dalam setiap kunjungan juga memastikan aspek teknis perbankan berjalan lancar. Jika ada penerima manfaat yang mengalami kendala akses rekening atau lupa PIN, petugas bank siap memberikan solusi di tempat.
Program bantuan rutin via transfer bank ini menjadi bukti nyata bahwa lembaga zakat dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan. Transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi menjadi tiga pilar yang memperkuat kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat.
"Ke depan, kami terus berkomitmen memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan. Setiap mustahik berhak mendapatkan bantuan yang tidak hanya cukup secara nominal, tetapi juga nyaman dan bermartabat dalam prosesnya," tandas tim BAZNAS Sidoarjo mengakhiri kunjungan lapangan hari itu.
Dengan 39 penerima manfaat lainnya yang akan dikunjungi sesuai jadwal terstruktur, BAZNAS Sidoarjo membuktikan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan instrumen pemberdayaan ekonomi yang sistematis dan berdampak nyata bagi masyarakat.
BERITA29/10/2025 | sudrab
BAZNAS Sidoarjo Mulai Salurkan Daging DAM 2025
225 Paket Daging Higienis siap saji Disalurkan untuk Keluarga Ekonomi Ekstrem dan Kelompok Rentan
SIDOARJO – BAZNAS Kabupaten Sidoarjo resmi memulai program penyaluran daging DAM (Denda Haji) tahun 2025 kepada masyarakat kurang mampu. Sebanyak 225 paket daging berkualitas yang telah diproses secara higienis dan siap saji diterima dari alokasi BAZNAS RI untuk didistribusikan kepada kelompok ekonomi ekstrem dan kategori rentan lainnya di wilayah Sidoarjo.
Program yang dipimpin langsung oleh M. Sofwan sebagai PIC (Person In Charge) penyaluran ini menargetkan 49 penerima manfaat dari kategori ekonomi ekstrem sebagai prioritas utama. "Kami memastikan distribusi tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Setiap paket yang kami salurkan telah melalui proses seleksi yang ketat untuk memastikan bantuan ini benar-benar menjadi solusi nyata bagi permasalahan gizi dan ekonomi keluarga penerima," ujar Sofwan saat memimpin tim penyaluran di Kecamatan Jabon, Selasa (28/10/2025).
Penyaluran perdana dilakukan di Desa Jemirahan, Kecamatan Jabon, di mana Bu Kujaimah dan Bu Fatemah menjadi penerima manfaat pertama. Keduanya, yang tergolong dalam kategori ekonomi ekstrem, menerima masing-masing satu paket berisi 5 pouch daging yang telah diolah secara higienis dan siap untuk dikonsumsi. "Alhamdulillah, ini sangat membantu kami. Sudah lama kami tidak bisa membeli daging," ungkap Bu Kujaimah dengan penuh syukur.
Tim BAZNAS Sidoarjo yang terdiri dari Ahmad Hamdani, M. Sofwan, Syukron In'am, dan Rita Defani melanjutkan distribusi ke Kedungcangkring, masih di Kecamatan Jabon. Di lokasi tersebut, Bu Musalmah dan Bapak Ahmad Jainuri menerima bantuan serupa. Kondisi rumah yang sederhana dan keterbatasan ekonomi yang mereka hadapi menjadi indikator tepat bahwa program ini benar-benar menyasar kelompok yang paling membutuhkan.
"Setiap paket yang kami salurkan telah melalui proses seleksi yang ketat. Kami tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga memastikan bahwa ini adalah solusi nyata untuk permasalahan gizi dan ekonomi keluarga penerima," jelas Ahmad Hamdani, salah satu staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo.
Program daging DAM tahun ini mengalokasikan distribusi yang lebih luas dan beragam. Selain 49 keluarga ekonomi ekstrem, BAZNAS Sidoarjo juga merencanakan penyaluran kepada pekerja rentan seperti pengendara ojek online (OJOL) yang terdampak ekonomi, santri di beberapa pondok pesantren, serta ibu hamil sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting di Kabupaten Sidoarjo.
"Kami memiliki visi komprehensif dalam program ini. Bukan hanya membantu ekonomi ekstrem, tetapi juga menyentuh berbagai lapisan masyarakat yang rentan. Ibu hamil misalnya, mendapat perhatian khusus karena asupan protein hewani sangat penting untuk mencegah stunting pada generasi mendatang," tambah Rita Defani, staf pelaksana yang fokus pada pendampingan ibu hamil.
Setiap paket daging DAM yang disalurkan merupakan hasil dari denda haji yang dikumpulkan oleh BAZNAS RI dan didistribusikan ke BAZNAS daerah. Daging tersebut telah melalui proses pengolahan yang memenuhi standar kesehatan dan dikemas dalam bentuk pouch siap saji, sehingga memudahkan penerima manfaat untuk mengkonsumsinya.
Syukron In'am menegaskan komitmen BAZNAS Sidoarjo dalam menjalankan amanah ini. "Ini adalah tanggung jawab besar yang kami emban. Setiap paket harus sampai ke tangan yang tepat, dan kami memastikan transparansi serta akuntabilitas dalam setiap tahap distribusi," katanya.
Program penyaluran daging DAM ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan sesaat, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, terutama dalam upaya pencegahan stunting dan pemberdayaan ekonomi kelompok rentan di Kabupaten Sidoarjo.
BAZNAS Sidoarjo mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung program-program filantropi yang bermanfaat bagi sesama. Informasi lebih lanjut mengenai program ini dapat diakses melalui kantor BAZNAS Kabupaten Sidoarjo.
BERITA28/10/2025 | sudrab
Di Hari Sumpah Pemuda 2025, BAZNAS Sidoarjo Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 20 Siswa SD di Jabon
SIDOARJO – Tepat usai upacara peringatan Sumpah Pemuda 2025, BAZNAS Sidoarjo mewujudkan komitmen nyata dalam membangun generasi masa depan bangsa. Selasa (28/10/2025), sebanyak 20 siswa dari dua sekolah dasar di Kecamatan Jabon, yakni SDN Keboguyang dan SDN Trompoasri 1, menerima bantuan biaya pendidikan yang menjadi secercah harapan bagi keluarga kurang mampu untuk tetap menyekolahkan anak-anak mereka.
Program distribusi bantuan ini dipimpin langsung oleh Dani Prabowo, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, yang menyerahkan amplop bantuan kepada para siswa dengan penuh kehangatan. "Semangat Sumpah Pemuda mengajarkan kita untuk bersatu membangun bangsa. Hari ini, kami hadir untuk memastikan bahwa tidak ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan menuntut ilmu hanya karena keterbatasan ekonomi," ujar Dani Prabowo saat menyerahkan bantuan di halaman SDN Keboguyang.
Di SDN Keboguyang, sepuluh siswa tampak antusias saat nama mereka dipanggil satu per satu. Mereka berdiri rapi mengenakan seragam putih-merah, dengan wajah yang memancarkan kegembiraan dan rasa syukur. Para orang tua yang mendampingi tak kuasa menahan haru, tampak terharu menyaksikan anak-anak mereka menerima bantuan yang sangat berarti bagi keberlangsungan pendidikan mereka.
Kepala SDN Keboguyang menyambut baik kehadiran BAZNAS Sidoarjo. Menurutnya, bantuan ini sangat membantu meringankan beban keluarga siswa, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit. "Kami sangat berterima kasih kepada BAZNAS Sidoarjo. Banyak anak di sini yang orang tuanya berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Dengan bantuan ini, mereka bisa lebih fokus belajar tanpa terbebani masalah biaya," katanya.
Setelah distribusi di SDN Keboguyang, rombongan BAZNAS Sidoarjo melanjutkan perjalanan ke SDN Trompoasri 1 yang berjarak sekitar 3 kilometer. Di lokasi kedua ini, sepuluh siswa lainnya telah menunggu dengan penuh harap di halaman sekolah yang dihiasi spanduk peringatan Hari Santri Nasional. Suasana semakin meriah ketika Dani Prabowo dan tim tiba. Para siswa berbaris rapi, siap menerima bantuan yang telah lama mereka nantikan.
"Anak-anak ini adalah aset bangsa yang harus kita jaga dan kita dukung. Pendidikan adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan. Kami berharap, dengan bantuan ini, mereka bisa terus bersekolah dan suatu hari nanti menjadi generasi yang bermanfaat bagi keluarga dan bangsa," tambah Dani Prabowo saat berada di SDN Trompoasri 1.
Kepala SDN Trompoasri 1 mengapresiasi kepedulian BAZNAS Sidoarjo terhadap dunia pendidikan. "Program seperti ini sangat kami butuhkan. Mayoritas siswa kami berasal dari keluarga petani dan buruh dengan penghasilan terbatas. Bantuan biaya pendidikan ini meringankan beban mereka dan memotivasi anak-anak untuk terus belajar," jelasnya.
Momen paling berkesan terjadi ketika dua puluh siswa dari kedua sekolah tersebut berpose bersama dengan Dani Prabowo dan tim BAZNAS Sidoarjo. Dengan senyum lebar dan penuh semangat, mereka serempak mengucapkan, "Terima kasih BAZNAS Sidoarjo!" Suara riuh rendah itu bergema di halaman sekolah, menciptakan suasana penuh kebahagiaan yang menyentuh hati semua yang hadir.
Program bantuan biaya pendidikan ini merupakan bagian dari program unggulan BAZNAS Sidoarjo dalam bidang pendidikan. Dana yang disalurkan berasal dari zakat, infak, dan sedekah yang diamanahkan oleh masyarakat Sidoarjo. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban keluarga kurang mampu dan memastikan anak-anak tetap mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan.
Dani Prabowo menegaskan bahwa BAZNAS Sidoarjo akan terus berkomitmen dalam mendukung program pendidikan, terutama bagi keluarga yang membutuhkan. "Ini bukan hanya tentang memberi uang, tapi tentang memberi harapan. Kami ingin memastikan bahwa setiap anak di Sidoarjo memiliki kesempatan yang sama untuk meraih mimpi mereka melalui pendidikan," pungkasnya.
Bagi keluarga penerima manfaat, bantuan ini bukan sekadar materi, melainkan bentuk kepedulian dan dukungan moral yang sangat berarti. Mereka berharap, dengan adanya program seperti ini, anak-anak mereka dapat terus bersekolah dan kelak menjadi generasi yang berpendidikan, mandiri, dan mampu mengangkat derajat keluarga serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Program distribusi bantuan biaya pendidikan di dua sekolah dasar di Jabon ini menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial masih hidup di tengah masyarakat Indonesia. Dengan dukungan dari berbagai pihak, harapan untuk menciptakan generasi emas Indonesia yang cerdas dan berkarakter semakin terbuka lebar.
BERITA28/10/2025 | sudrab
Dari Reruntuhan Menuju Harapan: Transformasi Rumah Ibu Tumilasning yang Menginspirasi
SIDOARJO – Dua bulan lalu, rumahnya nyaris roboh. Atap berlobang, dinding retak, dan setiap malam Ibu Tumilasning tidur dengan was-was, takut tertimpa reruntuhan. Kini, Senin (27/10/2025), di lokasi yang sama, berdiri sebuah rumah baru berwarna hijau cerah dengan pintu cokelat yang kokoh. Transformasi luar biasa ini menjadi bukti nyata bahwa zakat yang diamanahkan kepada BAZNAS Sidoarjo benar-benar mengubah kehidupan.
Pagi itu, tim monitoring BAZNAS Sidoarjo yang dipimpin Achmad Richie, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, tiba di Desa Karangpuri, Wonoayu. Ini adalah kunjungan monitoring rutin untuk memastikan kualitas renovasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH) yang telah dikerjakan pada bulan September lalu. Namun yang mereka saksikan bukan sekadar bangunan baru, melainkan kebangkitan martabat seorang perempuan yang selama ini hidup dalam ketakutan.
"Saya masih tidak percaya ini rumah saya. Dulu saya malu kalau ada tamu, sekarang saya malah bangga undang tetangga," kata Ibu Tumilasning dengan tawa lepas sambil menyambut tim di teras rumah barunya yang bersih dan rapi.
Perempuan lajang yang bekerja serabutan ini masih mengingat dengan jelas bagaimana kondisi rumahnya dua bulan lalu saat pertama kali didatangi tim survei BAZNAS. Pada Rabu (13/08/2025), M. Ilhamuddin, Wakil Ketua IV BAZNAS Sidoarjo, langsung prihatin melihat kondisi rumahnya yang sangat memprihatinkan.
"Kondisi rumah Ibu Tumilasning sudah sangat reot di seluruh bagian. Ini adalah prioritas yang harus segera kami tangani," ungkap Ilhamuddin saat itu, sambil mendokumentasikan setiap sudut rumah yang tampak rapuh dengan atap sebagian ambruk dan dinding yang mulai roboh.
Kini, dua bulan kemudian, transformasi yang terjadi sungguh menakjubkan. Rumah yang dulunya gelap, pengap, dan berbahaya, kini terang benderang dengan ventilasi yang baik. Atap genteng baru terpasang kokoh, dinding diplester dan dicat hijau cerah yang memberikan kesan segar. Pintu dan jendela baru dengan frame putih bersih terpasang sempurna, memberikan sirkulasi udara dan cahaya yang memadai.
Lantai yang dulunya tanah becek, kini telah dicor rapi dan bersih. Yang membuat hati hangat, rumah ini juga dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi yang layak, sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah dimiliki Ibu Tumilasning. Ia tidak perlu lagi meminjam fasilitas tetangga atau mandi seadanya.
"Sekarang saya bisa tidur nyenyak tanpa takut atap jebol atau dinding roboh. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan," ungkap Ibu Tumilasning sambil menunjukkan setiap sudut rumah barunya dengan penuh kebanggaan. Air matanya menggenang, tapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata syukur dan bahagia.
Achmad Richie yang memimpin monitoring hari ini mencatat dengan teliti setiap detail pengerjaan. "Alhamdulillah, pengerjaan RTLH Ibu Tumilasning sangat memuaskan. Kontraktor bekerja sesuai spesifikasi dan timeline. Yang terpenting, penerima manfaat sangat puas dan kehidupannya benar-benar berubah," jelasnya sambil mendokumentasikan foto "before-after" yang kontrasnya sangat mencolok.
Rumah Ibu Tumilasning menjadi salah satu dari delapan unit RTLH yang dimonitor pada hari itu. Tim BAZNAS Sidoarjo berkeliling dari Tanggulangin, Tulangan, Tarik, Krian, hingga Wonoayu, memastikan setiap bantuan yang disalurkan benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.
Namun, dari delapan rumah yang dikunjungi, transformasi rumah Ibu Tumilasning paling mencuri perhatian. Mungkin karena kondisi awalnya yang sangat memprihatinkan, atau mungkin karena perjuangan hidup perempuan lajang yang bekerja serabutan ini begitu menginspirasi. Bagaimana ia bertahan hidup sendirian dalam kondisi yang sangat sulit, tanpa keluarga yang membantu, hanya mengandalkan kekuatan doa dan ikhtiar.
"Saya hanya bisa berdoa, dan Allah mengirimkan BAZNAS untuk membantu saya. Ini bukan sekadar rumah, ini martabat saya yang dipulihkan," kata Ibu Tumilasning dengan penuh haru.
Program RTLH BAZNAS Sidoarjo yang dilaksanakan pada semester kedua 2025 ini memang dirancang bukan hanya untuk membangun fisik bangunan, tetapi juga untuk memulihkan martabat kemanusiaan. Dana zakat, infak, dan sedekah yang diamanahkan masyarakat disalurkan secara tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Kini, Ibu Tumilasning bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang dan bermartabat. Rumah yang dulunya menjadi beban dan sumber ketakutan, kini menjadi tempat berlindung yang aman dan nyaman. Sebuah hunian yang layak untuk seorang perempuan yang telah berjuang keras menjalani kehidupan.
Foto transformasi rumah Ibu Tumilasning kini menjadi bukti visual yang kuat tentang dampak nyata program BAZNAS Sidoarjo. Dari atap ambruk dan dinding roboh, menjadi rumah hijau cerah yang berdiri kokoh dengan penuh harapan.
"Ini bukan akhir, ini adalah awal dari kehidupan baru saya," ucap Ibu Tumilasning menutup perbincangan. Senyumnya yang tulus menjadi hadiah terindah bagi tim BAZNAS yang bekerja keras mewujudkan program ini.
BERITA27/10/2025 | sudrab
Pasangan Lansia Penderita Stroke Terima Bantuan Kursi Roda dari BAZNAS Sidoarjo
SIDOARJO – Kisah pilu menimpa pasangan suami istri lansia di Desa Lambangan, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Bapak Satiman (76) dan Ibu Juwariyah (73) sama-sama terbaring lemah akibat stroke yang diderita bertahun-tahun. Kondisi ini membuat mobilitas mereka sangat terbatas, bahkan untuk sekadar keluar kamar tidur.
Kamis (23/10/2025), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo mengulurkan tangan dengan mendistribusikan bantuan kursi roda kepada Bapak Satiman. Kunjungan yang berlangsung dari pukul 09.45 hingga 10.15 WIB ini dipimpin langsung oleh M. Shofwan, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, bersama Dani P.
"Ketika kami tiba di rumah Bapak Satiman, kondisi yang kami temukan sangat memprihatinkan. Beliau sudah enam tahun menderita stroke dan hanya bisa berbaring di kamar tidur. Yang lebih berat lagi, istrinya, Ibu Juwariyah, juga mengalami hal serupa sejak tiga tahun lalu," ungkap M. Shofwan saat ditemui di lokasi.
Rumah sederhana dengan pintu kayu berukir khas Jawa itu menjadi saksi perjuangan keluarga ini bertahan di tengah keterbatasan. Anak-anak mereka harus merawat kedua orang tua yang sama-sama membutuhkan perhatian khusus, sementara beban ekonomi keluarga terus berjalan.
M. Shofwan menjelaskan, bantuan kursi roda ini berasal dari dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang telah diamanahkan masyarakat kepada BAZNAS Sidoarjo. "Kursi roda ini bukan hanya alat bantu mobilitas, tetapi juga harapan bagi Bapak Satiman untuk bisa kembali merasakan udara segar di luar kamarnya. Kami berharap ini bisa sedikit meringankan beban keluarga," tambahnya.
Proses serah terima berlangsung khidmat di teras rumah. Bapak Satiman yang didampingi keluarganya tampak terharu menerima bantuan tersebut. Tangan keriputnya yang gemetar menyentuh pegangan kursi roda, seolah tak percaya ia kini memiliki kesempatan untuk kembali bergerak.
"Alhamdulillah, terima kasih BAZNAS. Saya sudah lama ingin bisa keluar rumah lagi. Sudah enam tahun saya hanya di kamar saja," ujar Bapak Satiman dengan suara parau penuh haru. Di sampingnya, Ibu Juwariyah yang juga duduk di kursi turut mengangguk, senyumnya menjadi bukti betapa bermaknanya bantuan ini bagi keluarga mereka.
"Inilah wujud nyata dari kepercayaan masyarakat yang telah menyalurkan zakat, infak, dan sedekahnya melalui BAZNAS. Kami memastikan setiap bantuan tersalurkan tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar membutuhkan," tegas M. Shofwan.
Program distribusi bantuan sosial ini merupakan bagian dari komitmen BAZNAS Kabupaten Sidoarjo untuk hadir dan peduli terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan. Dengan pendekatan langsung ke lapangan, BAZNAS memastikan bahwa setiap bantuan dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup mustahik.
Di Desa Lambangan, harapan baru kini tumbuh. Satu keluarga mendapat kesempatan untuk bangkit, dan satu kursi roda menjadi saksi bahwa solidaritas umat masih hidup dan nyata.
BERITA24/10/2025 | sudrab
BAZNAS Sidoarjo Menyapa yang Rentan
Kunjungan Langsung ke Rumah Lansia di Tanggulangin Wujud Nyata Kepedulian Lembaga Zakat
SIDOARJO – Di balik hiruk-pikuk aktivitas perkotaan, ada kehidupan yang bergerak dalam keheningan. Ibu Hami, lansia berusia 85 tahun yang tinggal di Desa Kalisampurno, Kecamatan Tanggulangin, adalah salah satu dari sekian banyak wajah kerentanan yang sering luput dari perhatian. Namun pada Rabu (22/10/2025), BAZNAS Sidoarjo membuktikan bahwa tidak ada satu pun anak bangsa yang boleh terlupakan—bahkan di pelosok kampung sekalipun.
Pagi itu, M. Shofwan, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, memulai perjalanan lapangannya menuju rumah Ibu Hami. Perjalanan yang ditempuh bukan sekadar bagian dari tugas administratif, melainkan bentuk komitmen lembaga zakat untuk menjangkau langsung mereka yang paling membutuhkan. Dengan membawa data mustahik dan paket bantuan, Shofwan mengarungi jalan-jalan desa yang masih basah oleh embun pagi, membawa harapan bagi keluarga yang telah lama menanti uluran tangan.
Setibanya di rumah Ibu Hami, gambaran kesederhanaan hidup langsung terlihat. Rumah kayu dengan dinding yang mulai lapuk dan atap genteng yang memudar menjadi saksi bisu perjuangan hidup seorang lansia dan keluarganya. Di dalam ruangan yang redup, Ibu Hami duduk di kursi kayu tua. Kondisi fisiknya yang ringkih, terutama pendengarannya yang kini sangat berkurang, membuat komunikasi menjadi tantangan tersendiri. Namun matanya yang berbinar memancarkan kehangatan dan kesabaran—sebuah ketabahan yang terbentuk dari delapan dekade mengarungi kehidupan.
"Ibu Hami adalah sosok yang sangat sabar. Meski kondisi kesehatannya menurun, beliau tidak pernah mengeluh. Pendengaran beliau memang sudah sangat berkurang, sehingga saya harus berbicara lebih keras dan perlahan," ujar Shofwan menjelaskan kondisi mustahik yang dikunjunginya.
Dari percakapan dengan anak Ibu Hami, terungkap bahwa sang ibu kini sepenuhnya bergantung pada bantuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari—mulai dari makan, minum, hingga aktivitas sederhana seperti berjalan ke kamar mandi. Kondisi kesehatan yang terus menurun, ditambah keterbatasan ekonomi keluarga, membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup yang layak, apalagi untuk biaya pemeriksaan kesehatan rutin.
Setelah melakukan asesmen mendalam terhadap kondisi keluarga, Shofwan menyerahkan bantuan tunai dan bantuan biaya hidup yang diharapkan dapat meringankan beban Ibu Hami dan keluarganya. Selain itu, BAZNAS Sidoarjo juga mencatat kebutuhan jangka panjang seperti bantuan pangan rutin, peralatan bantu dengar, serta dukungan biaya kesehatan untuk pemeriksaan berkala,dan potensi BAZNAS untuk bisa membantunya secara optimal.
"Kami tidak hanya memberikan bantuan materiil, tapi juga ingin memastikan bahwa mereka merasakan kepedulian nyata. Setiap kunjungan adalah upaya kami untuk mengembalikan martabat dan memberikan harapan kepada mereka yang terpinggirkan," tambah Shofwan.
Momen penyerahan bantuan menjadi sangat emosional. Mata Ibu Hami berkaca-kaca, tangannya yang keriput menggenggam tangan Shofwan dengan gemetar. Tidak banyak kata yang terucap, namun pelukan singkat dan tatapan penuh syukur itu berbicara lebih banyak dari ribuan kalimat. Bagi keluarga ini, bantuan BAZNAS bukan hanya soal materi, tetapi juga pengingat bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi kesulitan hidup.
Kunjungan lapangan seperti ini menjadi bagian integral dari program pendistribusian zakat BAZNAS Sidoarjo. Lembaga ini terus berkomitmen untuk menjangkau mustahik di berbagai pelosok daerah, memastikan bahwa dana zakat yang diamanahkan masyarakat tersalurkan tepat sasaran kepada mereka yang paling membutuhkan.
Kisah Ibu Hami adalah cerminan dari ribuan lansia dan keluarga rentan lainnya yang hidup dalam keheningan, tanpa sorotan publik, namun dengan perjuangan yang luar biasa. BAZNAS Sidoarjo, melalui program-program kemanusiaannya, berupaya menjembatani kesenjangan antara yang berkecukupan dan yang berkekurangan—mengingatkan kita semua bahwa dalam setiap zakat yang ditunaikan, ada doa yang terkabul dan harapan yang dihidupkan kembali.
BERITA22/10/2025 | sudrab
Atap Rapuh: Tangisan Candipari dan Jatikalang di Bawah Ancaman Derasnya Hujan
SIDOARJO – Atap. Seharusnya ia adalah simbol perlindungan, pelindung pertama dari terik dan hujan. Namun, bagi Pak Munasik di Candipari, Porong, dan Ibu Niasih di Jatikalang, Prambon, atap justru menjelma menjadi ancaman sunyi yang rapuh. Di bawah kerangka kayu yang telah lapuk dimakan waktu itulah, harapan untuk hidup layak dipertaruhkan setiap hari. Sebuah potret kemiskinan ekstrem yang disingkap oleh tim asesmen Rumah Tak Layak Huni (RTLH) BAZNAS Sidoarjo pada Selasa, 21 Oktober 2025.
Dipimpin oleh Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, Bapak Ach Saleh, tim menjejakkan kaki di dua titik rawan yang membutuhkan sentuhan segera dari dana zakat. Kunjungan pertama mengarah ke rumah Pak Munasik, seorang penjual tahu campur yang ramah namun menyimpan beban berat di pundaknya. Rumah yang ia tinggali bersama istri dan cucunya di Desa Candipari ini, menurut pengakuannya, telah menjadi saksi bisu kebocoran parah selama bertahun-tahun.
"Nggih ngeten niki, bocor kabeh," ujarnya pasrah, menggambarkan kondisi atapnya yang bolong di sana-sini. Saat ditanya sejak kapan kondisi ini terjadi, jawabannya mengiris hati, "Nggih, enten, 5 taun ngoten" (Ya, ada 5 tahun seperti ini). Lima tahun adalah setengah dekade bagi Pak Munasik berjuang mencari nafkah dengan berjualan tahu campur, sembari berharap hujan tidak turun terlalu deras. Selama itu pula, ia harus memastikan dagangannya "Preton" (sudah jualan) setiap pagi, tanpa pernah tahu apakah malamnya ia dan keluarga akan tidur dalam genangan atau tidak. Harapannya sederhana, "Nggih, ben didandani ngoten" (Ya, agar diperbaiki begitu), sebentuk permohonan yang dilampirkan pada setiap desah napas perjuangannya.
Dari Porong, tim bergerak ke Prambon untuk menemui Ibu Niasih, seorang janda yang membesarkan tiga anak seorang diri. Kisahnya tak kalah memilukan, bahkan diperparah dengan kondisi ekonomi yang menjepit. Bu Niasih sehari-hari bekerja sebagai buruh kupas bawang, sebuah pekerjaan kasar dengan upah yang sangat minim.
"Seminggu nggih satus seket," ungkapnya lirih, merujuk pada upah Rp 150.000 yang ia dapat dalam seminggu. Angka ini, jelas Ach Saleh, tidak pernah mencukupi untuk kebutuhan primer empat jiwa, apalagi untuk memperbaiki rumah. Sambil menunjuk ke arah belakang, Bu Niasih membenarkan bahwa seluruh atap rumahnya bocor. "Nggih, rusak niku. Bocor nggih? Nggih, bocor sedanten," katanya, menegaskan bahwa bagian belakang rumahnya adalah yang "paling parah," mengancam keselamatan anak-anaknya.
Ach Saleh menegaskan, dua sasran RTLH ini menjadi prioritas utama. Kerusakan yang dialami Pak Munasik dan Bu Niasih bukan lagi sekadar retak atau bocor ringan, melainkan kerusakan struktural pada atap yang lapuk total, membahayakan penghuni. "Kondisi ini tidak hanya mengancam kesehatan karena lembap, tetapi juga martabat mereka sebagai manusia," tutur Ach Saleh.
Kunjungan asesmen ini bukan akhir, melainkan awal. Data vital yang dikumpulkan BAZNAS Sidoarjo kini telah menjadi dasar kuat untuk segera mengimplementasikan program Bedah Rumah. Dana zakat yang dihimpun masyarakat Sidoarjo akan segera dikonversi menjadi material bangunan; kayu, genteng, dan pekerja yang akan merenovasi total atap kedua rumah ini. Targetnya, mengganti total struktur atap rapuh menjadi atap yang kokoh, mengembalikan rumah Pak Munasik dan Bu Niasih menjadi pelindung sejati. BAZNAS Sidoarjo berkomitmen, bahwa tidak ada lagi air mata yang tumpah akibat air hujan yang masuk ke dalam rumah.
BERITA22/10/2025 | sudrab
Serah Terima Hasil Rehab RTLH BAZNAS: Dari Reruntuhan Menjadi Rumah yang Berdinding Harapan
Sidoarjo, 21 Oktober 2025 — Di tengah terik siang yang menyengat, sebuah rumah berwarna hijau cerah di Desa Banjarpanji, Kecamatan Sidoarjo, menjadi saksi bisu keajaiban kolaborasi antara zakat dan kepedulian. Selasa (21/10), BAZNAS Kabupaten Sidoarjo secara resmi menyerahkan hasil rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Hasan Busiri (57), penyandang disabilitas polio yang rumahnya ambruk pada September lalu. Acara serah terima ini ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) yang diterima oleh putra Hasan Busiri, mewakili sang ayah yang kini tinggal sementara di rumah anak perempuannya. Penyerahan dipimpin langsung oleh Ach Saleh, SE., Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, sebagai wujud nyata komitmen bahwa zakat bukan hanya bantuan sesaat, melainkan transformasi hidup yang berkelanjutan.
Rumah Hasan runtuh pada 17 September 2025 akibat keroposnya struktur atap yang tak mampu lagi menahan beban. Kejadian itu menghancurkan bukan hanya tempat tinggal, tapi juga sumber penghidupan keluarga—teras rumah yang biasa digunakan sebagai bengkel cuci motor kini tinggal kenangan di balik tumpukan puing. Sejak itu, Hasan, yang mengalami kelumpuhan akibat polio, terpaksa mengungsi. Kondisi fisiknya membuatnya sulit berpindah, apalagi memantau proses pembangunan.
Namun, dari reruntuhan itu, BAZNAS Sidoarjo hadir membawa harapan. Melalui program rehab RTLH yang dibiayai dari dana zakat, tim teknis segera turun ke lokasi, merancang ulang rumah dengan struktur lebih kokoh dan aksesibel bagi disabilitas. Selama sebulan, pembangunan berlangsung intensif di bawah pengawasan ketat tim BAZNAS, dengan Ach Saleh, SE., yang rutin memantau progres. “Kami tidak hanya membangun dinding dan atap. Kami membangun kembali rasa aman dan martabat keluarga ini,” tegasnya saat menyerahkan dokumen BAST kepada putra Hasan.
Dalam momen penuh khidmat itu, putra Hasan menerima berkas serah terima dengan raut haru. “Ayah saya tidak bisa datang, tapi dia titip terima kasih. Ini rumah pertama yang benar-benar layak sejak kami tinggal di sini,” ujarnya. Di dinding rumah, terpasang plakat BAZNAS sebagai tanda bahwa rumah ini dibangun dari keikhlasan para muzaki.
Seusai acara, Ach Saleh juga memantau progres rehab rumah korban kebakaran, Bapak M. Yakup di Desa Trompoasri, Jabon. Ia menegaskan bahwa BAZNAS Sidoarjo akan terus mendampingi hingga keluarga tersebut benar-benar pulih—baik tempat tinggal maupun ekonominya.
Bagi BAZNAS Sidoarjo, setiap rumah yang dibangun adalah bukti nyata bahwa zakat adalah kekuatan hidup. Dan hari ini, di Banjarpanji, harapan itu kembali berdiri—kokoh, hangat, dan penuh berkah.
BERITA21/10/2025 | sudrab
Langkah Amil BAZNAS Sidoarjo: Menyentuh Hati, Membawa Berkah di Tengah Keterbatasan
Sidoarjo, 21 Oktober 2025— Di tengah teriknya siang yang menyengat, langkah-langkah pasti tim Amil BAZNAS Sidoarjo menapaki jalan-jalan desa, membawa bukan sekadar bantuan, tapi juga kehadiran yang penuh empati. Selasa (21/10), dalam rangka penyaluran dana fakir dari BAZNAS Provinsi Jawa Timur untuk bulan September–Oktober 2025, tim pelaksana dipimpin langsung oleh M. Sofwan, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menyambangi enam keluarga penerima manfaat di berbagai kecamatan. Setiap rumah yang dikunjungi menjadi saksi bisu bagaimana zakat berubah menjadi kekuatan penyemangat bagi mereka yang hidup dalam kesederhanaan ekstrem.
Perjalanan dimulai dari Sidokepung, Buduran, tempat Ibu Rokayah—seorang lansia yang tinggal seorang diri—menerima bantuan dengan air mata haru. “Saya tidak punya anak, hanya bisa mengandalkan tetangga. Ini pertama kalinya ada yang datang ke rumah saya dengan bantuan seperti ini,” ujarnya sambil memegang amplop bantuan yang diserahkan M. Sofwan dengan salam hormat. Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, M. Sofwan tak hanya menyerahkan paket, tapi juga mendengarkan kisah hidup sang ibu, memberi semangat, dan menjanjikan pendampingan berkelanjutan.
Tak berhenti di situ, rombongan melanjutkan perjalanan ke Pepe Legi, Waru, untuk menemui Ibu Sutinah, seorang janda yang membesarkan dua cucunya dengan upah serabutan. Rumahnya yang sederhana, tanpa listrik tetap menyala dalam semangat perjuangan. “Saya akan gunakan ini untuk beli susu dan obat untuk cucu-cucu saya,” katanya sambil tersenyum lebar. M. Sofwan, dengan nada tegas namun hangat, menegaskan bahwa BAZNAS hadir bukan hanya sebagai penyalur, tapi sebagai mitra yang akan terus memantau kebutuhan mereka.
Di Sawotratap, Gedangan, tiga wajah penuh harapan menyambut kedatangan tim: Ibu Laniska, Ibu Fatonah, dan Ibu Misinem. Ketiganya adalah perempuan tangguh yang hidup dalam keterbatasan fisik dan finansial, namun tak pernah menyerah. M. Sofwan bersimpuh di depan mereka, menyerahkan bantuan sambil berbisik doa. “Kami ingin setiap bantuan ini menjadi benih harapan, bukan sekadar solusi sesaat,” tegasnya. Para penerima tampak terharu, beberapa di antaranya bahkan mencium tangan M. Sofwan sebagai tanda syukur.
Penutup perjalanan hari itu dilakukan di Desa Grabakan, Tulangan, menemui Bapak Nyono—seorang pensiunan buruh tani yang kini kesulitan bergerak akibat rematik parah. Ditemani istri dan anaknya, ia menerima bantuan dengan suara bergetar. “Saya tidak bisa bekerja lagi, tapi Allah selalu mengirim pertolongan lewat orang-orang baik seperti kalian,” ucapnya. M. Sofwan menambahkan bahwa kunjungan ini bukan akhir, tapi awal dari sinergi panjang antara BAZNAS dan penerima manfaat.
Dengan total enam penerima manfaat dan lebih dari delapan jam perjalanan, M. Sofwan dan timnya menegaskan komitmen BAZNAS Sidoarjo untuk menjadikan zakat sebagai alat transformasi sosial yang nyata. “Setiap langkah kami adalah doa yang berjalan. Setiap senyum yang kami dapatkan adalah amanah yang harus kita jaga,” tutup M. Sofwan. Langkah amil BAZNAS Sidoarjo bukan sekadar distribusi, tapi pengingat bahwa di balik setiap rupiah zakat, ada hati yang berdetak, ada harapan yang menanti, dan ada kebaikan yang tak pernah berhenti mengalir.
BERITA21/10/2025 | sudrab

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat
