WhatsApp Icon
Menebar Kasih di Usia Senja: BAZNAS Sidoarjo Santuni Lansia Sebatang Kara di Celep

SIDOARJO KOTA – Di sebuah sudut kecil Kelurahan Celep, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Ibu MS (61). Di usianya yang telah memasuki senja, ia harus menjalani hari-hari tanpa pendamping hidup maupun anak yang merawatnya. Kondisi ekonomi yang serba terbatas menempatkannya dalam posisi rentan.

Merespons kondisi tersebut, BAZNAS Kabupaten Sidoarjo melalui tim lapangan bergerak cepat memberikan bantuan biaya hidup pada Kamis (26/02/2026) pukul 10.30 WIB. Langkah ini merupakan pengejawantahan dari program Sidoarjo Peduli yang memprioritaskan lansia non-potensial yang hidup sebatang kara.

Syukron In’am, Staf Pelaksana BAZNAS yang turun langsung ke lokasi, menekankan pentingnya kehadiran lembaga filantropi bagi lansia. "Ibu MS adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama. Melalui amanah para muzakki, kami berupaya memastikan bahwa di masa tuanya, beliau tetap mendapatkan akses terhadap kebutuhan pokok yang layak," tuturnya dengan penuh empati.

Secara analisis SROI, intervensi ini memberikan dampak well-being (kesejahteraan batin) yang sangat tinggi. Bagi lansia seperti Ibu MS, perhatian dari lembaga sosial memberikan rasa aman secara emosional, yang secara langsung berkontribusi pada kesehatan fisik dan mentalnya. Dana zakat di sini bertransformasi menjadi alat investasi sosial yang menjaga martabat kemanusiaan di usia senja.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa Zakat Menguatkan Indonesia bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata di lapangan. Menuju Ramadhan Tangguh, BAZNAS Sidoarjo terus memperluas jangkauan agar para lansia di pelosok desa dapat merasakan indahnya kebersamaan dan kepedulian umat.

26/02/2026 | Kontributor: sudrab
Konsistensi Sidoarjo Peduli: Menjaga Asa Ibu ES di Jalan Hasanuddin

SIDOARJO KOTA – Semangat kepedulian terus mengalir di jantung Kota Sidoarjo. Setelah menyambangi beberapa titik, tim BAZNAS Kabupaten Sidoarjo melanjutkan pendistribusian bantuan biaya hidup ke Jalan Hasanuddin, Kelurahan Celep, untuk menemui Ibu ES (67), seorang wanita lansia yang kini hidup sendiri tanpa dukungan keluarga inti.

Kegiatan yang berlangsung pada pukul 10.10 WIB ini melibatkan kolaborasi antara staf ahli BAZNAS dan generasi muda dari mahasiswa magang UINSA. Hal ini menunjukkan bahwa syiar zakat kini telah menjadi gerakan lintas generasi di Kabupaten Sidoarjo. Ibu ES, yang tergolong keluarga kurang mampu, menyambut kehadiran tim dengan haru.

"BAZNAS Sidoarjo akan terus berkomitmen hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan. Kami tidak hanya mengantar bantuan, tapi kami mengantar amanah dan doa dari para muzakki agar warga kita, seperti Ibu ES, tetap tangguh menghadapi tantangan hidup," jelas M. Shofwan saat menyerahkan bantuan secara simbolis.

Dilihat dari sudut pandang SROI, penyaluran bantuan di kawasan perkotaan yang padat seperti Celep memiliki nilai strategis. Bantuan ini mencegah terjadinya kemiskinan ekstrem yang lebih dalam dan memperkuat modal sosial (social capital) di lingkungan tersebut. Dengan memberikan dukungan biaya hidup, BAZNAS membantu mengurangi beban ketergantungan warga terhadap pinjaman ilegal atau bantuan yang tidak bermartabat.

Aksi filantropi ini merupakan bagian dari kampanye Zakat Menguatkan Indonesia. BAZNAS Sidoarjo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersiap menyambut Ramadhan Tangguh, sebuah momentum di mana kekuatan zakat, infak, dan sedekah akan menjadi motor utama dalam mengentaskan kesulitan ekonomi masyarakat di Sidoarjo.

26/02/2026 | Kontributor: sudrab
Membasuh Jiwa di Bulan Maghfirah: Menjemput Ampunan Melalui Puasa dan Filantropi

Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan atau untaian kalimat puitis yang menyapa telinga kita setiap tahun. Bagi umat Muslim, Ramadhan adalah sebuah proklamasi kasih sayang Allah SWT yang luar biasa. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, khususnya bagi masyarakat Sidoarjo yang serba cepat, bulan suci ini hadir sebagai "tombol jeda" spiritual untuk bersimpuh, mengevaluasi diri, dan menjemput ampunan yang dihamparkan seluas samudra.

Gerbang Langit yang Terbuka Lebar

Secara teologis, penyebutan Ramadhan sebagai bulan pengampunan memiliki akar yang kuat dalam hadis sahih. Saat fajar Ramadhan menyingsing, pintu surga dibuka seluas-luasnya, pintu neraka dikunci rapat, dan belenggu setan diperketat. Fenomena spiritual ini merupakan isyarat nyata bahwa Allah SWT sedang menghamparkan "karpet merah" bagi setiap hamba-Nya untuk kembali kepada fitrah atau kesucian asal.

Motivasi terbesar umat beriman dalam menjalani bulan ini bersumber dari janji Rasulullah SAW. Beliau bersabda bahwa siapapun yang menunaikan ibadah puasa dengan didasari iman dan ihtisaban (semata-mata mengharap ridha Allah), maka noktah hitam dari dosa-dosa masa lalunya akan diputihkan kembali.

Puasa sebagai Madrasah Penyucian Hati

Perlu dipahami bahwa ibadah puasa memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar menahan lapar dan dahaga. Di balik rasa haus yang menyengat, terdapat proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Puasa berfungsi sebagai instrumen penggugur dosa yang sangat efektif karena ia melatih kejujuran batin yang membawa manusia lebih dekat kepada Sang Khalik.

Dengan menahan hawa nafsu secara sadar, kita sebenarnya sedang meruntuhkan ego dan kesombongan yang seringkali menjadi penghalang antara hamba dengan Tuhannya. Inilah mengapa puasa disebut sebagai "madrasah" atau tempat belajar untuk mendidik jiwa agar kembali bersih dan rendah hati.

Lailatul Qadar: Puncak Keistimewaan

Keistimewaan bulan maghfirah ini mencapai puncaknya dengan kehadiran Lailatul Qadar, sebuah malam yang nilainya melampaui seribu bulan. Melalui doa yang diajarkan, "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni", kita diingatkan bahwa setinggi apa pun gunung dosa yang pernah kita daki, ampunan Allah selalu lebih luas untuk menaunginya. Malam ini menjadi kesempatan emas bagi siapa pun yang ingin menghapus jejak kesalahan masa lalu secara total.

Filantropi: Jembatan Menuju Ampunan Ilahi

Menariknya, penyesalan atau taubat batiniah dalam Islam idealnya dibuktikan dengan aksi nyata di dunia sosial. BAZNAS Sidoarjo meyakini bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melakukan sedekah jariyah dan zakat. Mengapa demikian? Karena dalam ajaran Islam, kebaikan yang dilakukan kepada sesama manusia bertindak sebagai pemadam api dosa.

Setiap tindakan berbagi memiliki dampak spiritual yang spesifik bagi pelakunya:

  • Zakat berfungsi menyucikan harta benda yang kita miliki agar berkah.
  • Sedekah berperan mendinginkan murka Allah dan menghapus kesalahan, layaknya air yang memadamkan api.
  • Berbagi Takjil memberikan pahala yang setara dengan orang yang berpuasa tanpa sedikit pun mengurangi pahala mereka.

Transformasi Diri: Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Hampa

Ramadhan adalah anugerah dan titik balik bagi siapa saja yang merasa lelah dengan beban dosa. Namun, penting untuk diingat bahwa ampunan tidak datang kepada mereka yang diam; ampunan harus dijemput dengan ruku yang panjang, istighfar yang tulus, dan tangan yang ringan dalam berbagi.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum transformasi diri. Tujuan kita bukan hanya bersih secara spiritual di hadapan Tuhan, tetapi juga menjadi pribadi yang berdampak secara sosial. Melalui penyaluran zakat, infak, dan sedekah—seperti melalui BAZNAS Sidoarjo—kita dapat menguatkan saudara-saudara yang membutuhkan agar mereka juga bisa merasakan indahnya Ramadhan. Dengan demikian, kita tidak hanya meraih ampunan-Nya, tetapi juga mewujudkan kemandirian bangsa menuju Ramadhan yang tangguh.

26/02/2026 | Kontributor: Humas
Menembus Lorong Sempit Tanggulangin demi Senyum Seorang Ibu

TANGGULANGIN, SIDOARJO – Pagi yang mendung di Desa Kludan, Kecamatan Tanggulangin, tidak menyurutkan langkah tim pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Sidoarjo untuk menyusuri gang-gang sempit. Pada Kamis (26/02/2026), sebuah misi kemanusiaan dalam bingkai program "Sidoarjo Peduli" dilaksanakan untuk menyapa Ibu AG (inisial), seorang perantau asal Nganjuk yang kini berjuang menyambung hidup di sebuah kamar kos sederhana.

Ibu AG adalah potret pejuang kehidupan. Sebagai orang tua tunggal yang membesarkan seorang anak di tanah rantau, keterbatasan ekonomi kerap kali menjadi tembok besar. Namun, melalui dana zakat, infak, dan sedekah yang dikelola BAZNAS, harapan itu kembali dipupuk. Kehadiran petugas BAZNAS, M. Shofwan dan Syukron In’am, bersama mahasiswa magang UINSA, bukan sekadar memberikan bantuan biaya hidup, melainkan memberikan pengakuan atas martabat mereka yang sedang diuji.

Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, M. Shofwan, menyatakan bahwa penyaluran ini merupakan bentuk tanggung jawab publik. "Kami hadir di sini untuk memastikan bahwa tidak ada saudara kita yang merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan ekonomi. Program Sidoarjo Peduli dirancang untuk memberikan jaring pengaman sosial yang cepat dan tepat sasaran," ujarnya di sela-sela kegiatan.

Dalam perspektif Social Return on Investment (SROI), bantuan ini tidak hanya dinilai dari nominal uang yang diserahkan. Dampak sosial yang dihasilkan jauh lebih besar: stabilitas psikologis bagi sang ibu dan keberlangsungan nutrisi bagi anaknya. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, risiko sosial di lingkungan kos dapat ditekan, menciptakan ketahanan keluarga yang lebih kuat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan besar Zakat Menguatkan Indonesia. Menjelang bulan suci, BAZNAS berkomitmen mewujudkan Ramadhan Tangguh bagi seluruh mustahik di Sidoarjo, memastikan mereka dapat menyambut bulan penuh berkah dengan hati yang lebih tenang.

26/02/2026 | Kontributor: sudrab
Membuka Pintu Masa Depan: BAZNAS Sidoarjo Salurkan Dukungan Pendidikan di SDN Klurak

SIDOARJO – Investasi terbaik bagi sebuah bangsa tidak selalu berupa infrastruktur fisik, melainkan melalui jaminan keberlanjutan pendidikan bagi generasi mudanya. Semangat inilah yang dibawa oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo saat menyambangi SDN Klurak, Kecamatan Candi, pada Rabu (25/2/2026). Melalui kampanye "Zakat Menguatkan Indonesia", BAZNAS hadir untuk memberikan dukungan biaya pendidikan bagi para siswa yang memiliki cita-cita besar namun terkendala keterbatasan ekonomi keluarga.

Tepat pukul 10.00 WIB, suasana hangat menyelimuti SDN Klurak saat tim pelaksana BAZNAS Sidoarjo, M. Sofwan dan Syukron In’am, tiba di lokasi. Kedatangan mereka bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah misi kemanusiaan untuk memastikan bahwa anak-anak di Desa Klurak tidak ada yang terpaksa menanggalkan seragam sekolahnya karena alasan biaya.

Berdasarkan hasil asesmen mendalam yang dilakukan tim lapangan, terdapat 8 siswa di SDN Klurak yang masuk dalam kriteria penerima manfaat. Mereka berasal dari keluarga prasejahtera yang sedang berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penyaluran bantuan biaya pendidikan ini diharapkan menjadi "napas baru" bagi para orang tua siswa, sehingga fokus anak-anak kembali sepenuhnya pada buku dan prestasi, bukan pada kecemasan akan biaya operasional sekolah.

Dilihat dari perspektif Social Return on Investment (SROI), dukungan yang diberikan BAZNAS Sidoarjo ini memiliki nilai manfaat yang berlipat ganda. Secara jangka pendek, bantuan ini memenuhi kebutuhan mendesak siswa. Namun, secara jangka panjang, zakat yang disalurkan berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang mencegah degradasi kualitas SDM di tingkat lokal. Dengan tetap bersekolah, anak-anak ini memiliki peluang lebih besar untuk memutus rantai kemiskinan di keluarga mereka di masa depan. Setiap rupiah zakat yang ditunaikan oleh para muzakki bertransformasi menjadi investasi intelektual dan moral yang akan menguatkan struktur sosial masyarakat Sidoarjo.

Sinergi antara sekolah, pemerintah, dan lembaga amil zakat seperti BAZNAS menjadi kunci keberhasilan program ini. Tim BAZNAS menyadari bahwa kehadiran mereka adalah perpanjangan tangan dari kebaikan hati para donatur yang ingin melihat Indonesia lebih kuat melalui tangan-tangan cerdas anak-anak daerah.

"Pendidikan adalah fondasi utama dari kemandirian umat. Kami di BAZNAS Sidoarjo berkomitmen untuk terus hadir di tengah-tengah sekolah seperti SDN Klurak ini untuk memastikan zakat hadir sebagai solusi nyata. Kami ingin anak-anak kita merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam merajut mimpi," ujar Syukron In’am, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, di sela-sela kegiatan.

Penyaluran di SDN Klurak ini menambah deretan aksi nyata BAZNAS Sidoarjo dalam mendistribusikan manfaat zakat secara transparan dan tepat sasaran. Dengan semangat gotong royong, BAZNAS terus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menguatkan sesama melalui zakat, karena dari zakatlah kekuatan Indonesia dimulai.


Mari Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Anda melalui:

  • Saluran Digital: kabsidoarjo.baznas.go.id/bayarzakat
  • Transfer Rekening Bank (A.N Baznas Sidoarjo):
    • Bank Jatim: 0261011522
    • BCA: 8292799992
    • BSI: 7135558887
    • Bank Jatim Syariah: 6202222069
    • BPR Bank Delta Artha: 10110108490

 

25/02/2026 | Kontributor: sudrab

Berita Terbaru

BAZNAS Sidoarjo Menyapa yang Rentan
BAZNAS Sidoarjo Menyapa yang Rentan
Kunjungan Langsung ke Rumah Lansia di Tanggulangin Wujud Nyata Kepedulian Lembaga Zakat SIDOARJO – Di balik hiruk-pikuk aktivitas perkotaan, ada kehidupan yang bergerak dalam keheningan. Ibu Hami, lansia berusia 85 tahun yang tinggal di Desa Kalisampurno, Kecamatan Tanggulangin, adalah salah satu dari sekian banyak wajah kerentanan yang sering luput dari perhatian. Namun pada Rabu (22/10/2025), BAZNAS Sidoarjo membuktikan bahwa tidak ada satu pun anak bangsa yang boleh terlupakan—bahkan di pelosok kampung sekalipun. Pagi itu, M. Shofwan, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, memulai perjalanan lapangannya menuju rumah Ibu Hami. Perjalanan yang ditempuh bukan sekadar bagian dari tugas administratif, melainkan bentuk komitmen lembaga zakat untuk menjangkau langsung mereka yang paling membutuhkan. Dengan membawa data mustahik dan paket bantuan, Shofwan mengarungi jalan-jalan desa yang masih basah oleh embun pagi, membawa harapan bagi keluarga yang telah lama menanti uluran tangan. Setibanya di rumah Ibu Hami, gambaran kesederhanaan hidup langsung terlihat. Rumah kayu dengan dinding yang mulai lapuk dan atap genteng yang memudar menjadi saksi bisu perjuangan hidup seorang lansia dan keluarganya. Di dalam ruangan yang redup, Ibu Hami duduk di kursi kayu tua. Kondisi fisiknya yang ringkih, terutama pendengarannya yang kini sangat berkurang, membuat komunikasi menjadi tantangan tersendiri. Namun matanya yang berbinar memancarkan kehangatan dan kesabaran—sebuah ketabahan yang terbentuk dari delapan dekade mengarungi kehidupan. "Ibu Hami adalah sosok yang sangat sabar. Meski kondisi kesehatannya menurun, beliau tidak pernah mengeluh. Pendengaran beliau memang sudah sangat berkurang, sehingga saya harus berbicara lebih keras dan perlahan," ujar Shofwan menjelaskan kondisi mustahik yang dikunjunginya. Dari percakapan dengan anak Ibu Hami, terungkap bahwa sang ibu kini sepenuhnya bergantung pada bantuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari—mulai dari makan, minum, hingga aktivitas sederhana seperti berjalan ke kamar mandi. Kondisi kesehatan yang terus menurun, ditambah keterbatasan ekonomi keluarga, membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup yang layak, apalagi untuk biaya pemeriksaan kesehatan rutin. Setelah melakukan asesmen mendalam terhadap kondisi keluarga, Shofwan menyerahkan bantuan tunai dan bantuan biaya hidup yang diharapkan dapat meringankan beban Ibu Hami dan keluarganya. Selain itu, BAZNAS Sidoarjo juga mencatat kebutuhan jangka panjang seperti bantuan pangan rutin, peralatan bantu dengar, serta dukungan biaya kesehatan untuk pemeriksaan berkala,dan potensi BAZNAS untuk bisa membantunya secara optimal. "Kami tidak hanya memberikan bantuan materiil, tapi juga ingin memastikan bahwa mereka merasakan kepedulian nyata. Setiap kunjungan adalah upaya kami untuk mengembalikan martabat dan memberikan harapan kepada mereka yang terpinggirkan," tambah Shofwan. Momen penyerahan bantuan menjadi sangat emosional. Mata Ibu Hami berkaca-kaca, tangannya yang keriput menggenggam tangan Shofwan dengan gemetar. Tidak banyak kata yang terucap, namun pelukan singkat dan tatapan penuh syukur itu berbicara lebih banyak dari ribuan kalimat. Bagi keluarga ini, bantuan BAZNAS bukan hanya soal materi, tetapi juga pengingat bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi kesulitan hidup. Kunjungan lapangan seperti ini menjadi bagian integral dari program pendistribusian zakat BAZNAS Sidoarjo. Lembaga ini terus berkomitmen untuk menjangkau mustahik di berbagai pelosok daerah, memastikan bahwa dana zakat yang diamanahkan masyarakat tersalurkan tepat sasaran kepada mereka yang paling membutuhkan. Kisah Ibu Hami adalah cerminan dari ribuan lansia dan keluarga rentan lainnya yang hidup dalam keheningan, tanpa sorotan publik, namun dengan perjuangan yang luar biasa. BAZNAS Sidoarjo, melalui program-program kemanusiaannya, berupaya menjembatani kesenjangan antara yang berkecukupan dan yang berkekurangan—mengingatkan kita semua bahwa dalam setiap zakat yang ditunaikan, ada doa yang terkabul dan harapan yang dihidupkan kembali.
BERITA22/10/2025 | sudrab
Atap Rapuh: Tangisan Candipari dan Jatikalang di Bawah Ancaman Derasnya Hujan
Atap Rapuh: Tangisan Candipari dan Jatikalang di Bawah Ancaman Derasnya Hujan
SIDOARJO – Atap. Seharusnya ia adalah simbol perlindungan, pelindung pertama dari terik dan hujan. Namun, bagi Pak Munasik di Candipari, Porong, dan Ibu Niasih di Jatikalang, Prambon, atap justru menjelma menjadi ancaman sunyi yang rapuh. Di bawah kerangka kayu yang telah lapuk dimakan waktu itulah, harapan untuk hidup layak dipertaruhkan setiap hari. Sebuah potret kemiskinan ekstrem yang disingkap oleh tim asesmen Rumah Tak Layak Huni (RTLH) BAZNAS Sidoarjo pada Selasa, 21 Oktober 2025. Dipimpin oleh Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, Bapak Ach Saleh, tim menjejakkan kaki di dua titik rawan yang membutuhkan sentuhan segera dari dana zakat. Kunjungan pertama mengarah ke rumah Pak Munasik, seorang penjual tahu campur yang ramah namun menyimpan beban berat di pundaknya. Rumah yang ia tinggali bersama istri dan cucunya di Desa Candipari ini, menurut pengakuannya, telah menjadi saksi bisu kebocoran parah selama bertahun-tahun. "Nggih ngeten niki, bocor kabeh," ujarnya pasrah, menggambarkan kondisi atapnya yang bolong di sana-sini. Saat ditanya sejak kapan kondisi ini terjadi, jawabannya mengiris hati, "Nggih, enten, 5 taun ngoten" (Ya, ada 5 tahun seperti ini). Lima tahun adalah setengah dekade bagi Pak Munasik berjuang mencari nafkah dengan berjualan tahu campur, sembari berharap hujan tidak turun terlalu deras. Selama itu pula, ia harus memastikan dagangannya "Preton" (sudah jualan) setiap pagi, tanpa pernah tahu apakah malamnya ia dan keluarga akan tidur dalam genangan atau tidak. Harapannya sederhana, "Nggih, ben didandani ngoten" (Ya, agar diperbaiki begitu), sebentuk permohonan yang dilampirkan pada setiap desah napas perjuangannya. Dari Porong, tim bergerak ke Prambon untuk menemui Ibu Niasih, seorang janda yang membesarkan tiga anak seorang diri. Kisahnya tak kalah memilukan, bahkan diperparah dengan kondisi ekonomi yang menjepit. Bu Niasih sehari-hari bekerja sebagai buruh kupas bawang, sebuah pekerjaan kasar dengan upah yang sangat minim. "Seminggu nggih satus seket," ungkapnya lirih, merujuk pada upah Rp 150.000 yang ia dapat dalam seminggu. Angka ini, jelas Ach Saleh, tidak pernah mencukupi untuk kebutuhan primer empat jiwa, apalagi untuk memperbaiki rumah. Sambil menunjuk ke arah belakang, Bu Niasih membenarkan bahwa seluruh atap rumahnya bocor. "Nggih, rusak niku. Bocor nggih? Nggih, bocor sedanten," katanya, menegaskan bahwa bagian belakang rumahnya adalah yang "paling parah," mengancam keselamatan anak-anaknya. Ach Saleh menegaskan, dua sasran RTLH ini menjadi prioritas utama. Kerusakan yang dialami Pak Munasik dan Bu Niasih bukan lagi sekadar retak atau bocor ringan, melainkan kerusakan struktural pada atap yang lapuk total, membahayakan penghuni. "Kondisi ini tidak hanya mengancam kesehatan karena lembap, tetapi juga martabat mereka sebagai manusia," tutur Ach Saleh. Kunjungan asesmen ini bukan akhir, melainkan awal. Data vital yang dikumpulkan BAZNAS Sidoarjo kini telah menjadi dasar kuat untuk segera mengimplementasikan program Bedah Rumah. Dana zakat yang dihimpun masyarakat Sidoarjo akan segera dikonversi menjadi material bangunan; kayu, genteng, dan pekerja yang akan merenovasi total atap kedua rumah ini. Targetnya, mengganti total struktur atap rapuh menjadi atap yang kokoh, mengembalikan rumah Pak Munasik dan Bu Niasih menjadi pelindung sejati. BAZNAS Sidoarjo berkomitmen, bahwa tidak ada lagi air mata yang tumpah akibat air hujan yang masuk ke dalam rumah.
BERITA22/10/2025 | sudrab
Serah Terima Hasil Rehab RTLH BAZNAS: Dari Reruntuhan Menjadi Rumah yang Berdinding Harapan
Serah Terima Hasil Rehab RTLH BAZNAS: Dari Reruntuhan Menjadi Rumah yang Berdinding Harapan
Sidoarjo, 21 Oktober 2025 — Di tengah terik siang yang menyengat, sebuah rumah berwarna hijau cerah di Desa Banjarpanji, Kecamatan Sidoarjo, menjadi saksi bisu keajaiban kolaborasi antara zakat dan kepedulian. Selasa (21/10), BAZNAS Kabupaten Sidoarjo secara resmi menyerahkan hasil rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Hasan Busiri (57), penyandang disabilitas polio yang rumahnya ambruk pada September lalu. Acara serah terima ini ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) yang diterima oleh putra Hasan Busiri, mewakili sang ayah yang kini tinggal sementara di rumah anak perempuannya. Penyerahan dipimpin langsung oleh Ach Saleh, SE., Wakil Ketua III BAZNAS Sidoarjo, sebagai wujud nyata komitmen bahwa zakat bukan hanya bantuan sesaat, melainkan transformasi hidup yang berkelanjutan. Rumah Hasan runtuh pada 17 September 2025 akibat keroposnya struktur atap yang tak mampu lagi menahan beban. Kejadian itu menghancurkan bukan hanya tempat tinggal, tapi juga sumber penghidupan keluarga—teras rumah yang biasa digunakan sebagai bengkel cuci motor kini tinggal kenangan di balik tumpukan puing. Sejak itu, Hasan, yang mengalami kelumpuhan akibat polio, terpaksa mengungsi. Kondisi fisiknya membuatnya sulit berpindah, apalagi memantau proses pembangunan. Namun, dari reruntuhan itu, BAZNAS Sidoarjo hadir membawa harapan. Melalui program rehab RTLH yang dibiayai dari dana zakat, tim teknis segera turun ke lokasi, merancang ulang rumah dengan struktur lebih kokoh dan aksesibel bagi disabilitas. Selama sebulan, pembangunan berlangsung intensif di bawah pengawasan ketat tim BAZNAS, dengan Ach Saleh, SE., yang rutin memantau progres. “Kami tidak hanya membangun dinding dan atap. Kami membangun kembali rasa aman dan martabat keluarga ini,” tegasnya saat menyerahkan dokumen BAST kepada putra Hasan. Dalam momen penuh khidmat itu, putra Hasan menerima berkas serah terima dengan raut haru. “Ayah saya tidak bisa datang, tapi dia titip terima kasih. Ini rumah pertama yang benar-benar layak sejak kami tinggal di sini,” ujarnya. Di dinding rumah, terpasang plakat BAZNAS sebagai tanda bahwa rumah ini dibangun dari keikhlasan para muzaki. Seusai acara, Ach Saleh juga memantau progres rehab rumah korban kebakaran, Bapak M. Yakup di Desa Trompoasri, Jabon. Ia menegaskan bahwa BAZNAS Sidoarjo akan terus mendampingi hingga keluarga tersebut benar-benar pulih—baik tempat tinggal maupun ekonominya. Bagi BAZNAS Sidoarjo, setiap rumah yang dibangun adalah bukti nyata bahwa zakat adalah kekuatan hidup. Dan hari ini, di Banjarpanji, harapan itu kembali berdiri—kokoh, hangat, dan penuh berkah.
BERITA21/10/2025 | sudrab
Langkah Amil BAZNAS Sidoarjo: Menyentuh Hati, Membawa Berkah di Tengah Keterbatasan
Langkah Amil BAZNAS Sidoarjo: Menyentuh Hati, Membawa Berkah di Tengah Keterbatasan
Sidoarjo, 21 Oktober 2025— Di tengah teriknya siang yang menyengat, langkah-langkah pasti tim Amil BAZNAS Sidoarjo menapaki jalan-jalan desa, membawa bukan sekadar bantuan, tapi juga kehadiran yang penuh empati. Selasa (21/10), dalam rangka penyaluran dana fakir dari BAZNAS Provinsi Jawa Timur untuk bulan September–Oktober 2025, tim pelaksana dipimpin langsung oleh M. Sofwan, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menyambangi enam keluarga penerima manfaat di berbagai kecamatan. Setiap rumah yang dikunjungi menjadi saksi bisu bagaimana zakat berubah menjadi kekuatan penyemangat bagi mereka yang hidup dalam kesederhanaan ekstrem. Perjalanan dimulai dari Sidokepung, Buduran, tempat Ibu Rokayah—seorang lansia yang tinggal seorang diri—menerima bantuan dengan air mata haru. “Saya tidak punya anak, hanya bisa mengandalkan tetangga. Ini pertama kalinya ada yang datang ke rumah saya dengan bantuan seperti ini,” ujarnya sambil memegang amplop bantuan yang diserahkan M. Sofwan dengan salam hormat. Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, M. Sofwan tak hanya menyerahkan paket, tapi juga mendengarkan kisah hidup sang ibu, memberi semangat, dan menjanjikan pendampingan berkelanjutan. Tak berhenti di situ, rombongan melanjutkan perjalanan ke Pepe Legi, Waru, untuk menemui Ibu Sutinah, seorang janda yang membesarkan dua cucunya dengan upah serabutan. Rumahnya yang sederhana, tanpa listrik tetap menyala dalam semangat perjuangan. “Saya akan gunakan ini untuk beli susu dan obat untuk cucu-cucu saya,” katanya sambil tersenyum lebar. M. Sofwan, dengan nada tegas namun hangat, menegaskan bahwa BAZNAS hadir bukan hanya sebagai penyalur, tapi sebagai mitra yang akan terus memantau kebutuhan mereka. Di Sawotratap, Gedangan, tiga wajah penuh harapan menyambut kedatangan tim: Ibu Laniska, Ibu Fatonah, dan Ibu Misinem. Ketiganya adalah perempuan tangguh yang hidup dalam keterbatasan fisik dan finansial, namun tak pernah menyerah. M. Sofwan bersimpuh di depan mereka, menyerahkan bantuan sambil berbisik doa. “Kami ingin setiap bantuan ini menjadi benih harapan, bukan sekadar solusi sesaat,” tegasnya. Para penerima tampak terharu, beberapa di antaranya bahkan mencium tangan M. Sofwan sebagai tanda syukur. Penutup perjalanan hari itu dilakukan di Desa Grabakan, Tulangan, menemui Bapak Nyono—seorang pensiunan buruh tani yang kini kesulitan bergerak akibat rematik parah. Ditemani istri dan anaknya, ia menerima bantuan dengan suara bergetar. “Saya tidak bisa bekerja lagi, tapi Allah selalu mengirim pertolongan lewat orang-orang baik seperti kalian,” ucapnya. M. Sofwan menambahkan bahwa kunjungan ini bukan akhir, tapi awal dari sinergi panjang antara BAZNAS dan penerima manfaat. Dengan total enam penerima manfaat dan lebih dari delapan jam perjalanan, M. Sofwan dan timnya menegaskan komitmen BAZNAS Sidoarjo untuk menjadikan zakat sebagai alat transformasi sosial yang nyata. “Setiap langkah kami adalah doa yang berjalan. Setiap senyum yang kami dapatkan adalah amanah yang harus kita jaga,” tutup M. Sofwan. Langkah amil BAZNAS Sidoarjo bukan sekadar distribusi, tapi pengingat bahwa di balik setiap rupiah zakat, ada hati yang berdetak, ada harapan yang menanti, dan ada kebaikan yang tak pernah berhenti mengalir.
BERITA21/10/2025 | sudrab
Tembus Rp300 Juta, Solidaritas Ayo Pulihkan Al-Khoziny Terus Mengalir Deras Melalui BAZNAS Sidoarjo
Tembus Rp300 Juta, Solidaritas Ayo Pulihkan Al-Khoziny Terus Mengalir Deras Melalui BAZNAS Sidoarjo
SIDOARJO – Gelombang kepedulian yang luar biasa untuk pemulihan Pondok Pesantren Al-Khoziiny Buduran Sidoarjo terus mengalir deras. Solidaritas dari berbagai elemen masyarakat yang dikoordinasikan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo telah mencapai angka yang menembus batas psikologis: sekitar Rp300 juta dalam bentuk bantuan tunai. Angka fantastis ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial dan semangat gotong royong warga Sidoarjo dalam membantu lembaga pendidikan yang sedang diuji. Dua penyerahan donasi terbaru menjadi bukti nyata gelora kepedulian tersebut, tercatat hanya berselang beberapa hari. Yang terbaru, pada tanggal 21 Oktober 2025, Keluarga Besar Yayasan Khazanah Ilmu Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, menunjukkan komitmennya. Mereka hadir di Kantor BAZNAS Sidoarjo yang berlokasi di Jalan Pahlawan I No. 10 dengan membawa bantuan tunai sebesar Rp14.785.000. Bantuan ini diserahkan langsung oleh perwakilan dari Yayasan Khazanah Ilmu, Bapak Anang Fauzi—salah satu guru SD di yayasan tersebut—kepada Wakil Ketua II BAZNAS Sidoarjo, Bapak M. Mahbub atau yang akrab disapa Gus Mahbub. Momen penyerahan ini terasa semakin mengharukan dengan didampingi oleh dua perwakilan siswa SD dari Yayasan Khazanah Ilmu, yang membawahi unit sekolah TK, RA, dan SD. Kehadiran mereka menegaskan bahwa semangat berbagi telah tertanam kuat sejak usia dini. Gus Mahbub menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas partisipasi aktif dari Yayasan Khazanah Ilmu. "Ini adalah wujud nyata kepedulian ekosistem pendidikan di Sidoarjo. Kami melihat semangat 'Ayo Pulihkan Al-Khoziny' ini menjadi gerakan kolektif. Setiap rupiah yang terkumpul adalah kepercayaan yang harus kami jaga dan salurkan secepatnya untuk proses rekonstruksi dan pemulihan kegiatan di pondok pesantren," tegas Gus Mahbub. Tak hanya itu, beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Jumat, 17 Oktober 2025, BAZNAS Sidoarjo juga telah menerima donasi signifikan dari perwakilan Keluarga Besar Yayasan Pendidikan dan Pengajaran (YPP) Darul Fikri. Melalui Bapak Andy Setyawan, YPP Darul Fikri menyerahkan bantuan tunai senilai Rp14.184.020. Donasi ini diterima langsung oleh Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo, Dyah Ayu Rahmawati. Dyah Ayu Rahmawati menambahkan bahwa antusiasme penyaluran donasi untuk Ponpes Al-Khoziny sangat tinggi, baik dari lembaga pendidikan, perusahaan, hingga komunitas perorangan. "Alhamdulillah, kami mencatat bahwa bantuan tunai untuk Ponpes Al-Khoziny yang terkumpul melalui BAZNAS Sidoarjo ini sudah menembus angka sekitar Rp300 juta. Nantinya, Dana ini akan kami salurkan secara bertahap dan transparan, berkoordinasi dengan pihak pondok pesantren untuk memenuhi kebutuhan rehabilitasi yang paling mendesak," jelasnya. Total dana yang terkumpul ini akan difokuskan untuk membantu percepatan pembangunan kembali sarana dan prasarana pondok yang mengalami kerusakan parah. Kampanye "Ayo Pulihkan Al-Khoziiny" yang digaungkan BAZNAS Sidoarjo bersama berbagai mitra terbukti berhasil menjadi wadah yang dipercaya masyarakat untuk menyalurkan shadaqah dan infak kemanusiaan mereka. Capaian Rp300 juta ini diharapkan menjadi pemicu bagi pihak-pihak lain untuk terus berkontribusi, memastikan proses pemulihan Pondok Pesantren Al-Khoziiny dapat segera tuntas, agar aktivitas belajar mengajar para santri kembali normal.
BERITA21/10/2025 | sudrab
Menembus Batas, Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid At-Taubah Waru
Menembus Batas, Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid At-Taubah Waru
Sidoarjo – Ketika malam mulai menyelimuti Desa Kepuhkiriman, Waru, sebuah misi kemanusiaan tengah berlangsung. Tim BAZNAS Kabupaten Sidoarjo menyalurkan bantuan pembangunan untuk Masjid At-Taubah yang terletak tepat di depan Balai Desa, Senin (20/10/2025) malam. Dua staf pelaksana, A. Hamdani dan Minan Abdul Haq, hadir membawa harapan baru bagi jamaah setempat yang tengah berjuang menyelesaikan rumah ibadah mereka. Masjid At-Taubah saat ini masih dalam tahap pembangunan. Tiang-tiang beton kokoh berdiri, rangka atap mulai terbentuk, namun masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Lantai keramik telah terpasang sebagian, sementara dinding-dinding menanti sentuhan akhir. Kondisi fisik bangunan menunjukkan keseriusan panitia pembangunan, namun keterbatasan dana menjadi tantangan utama untuk melanjutkan ke tahap finishing. "Kami sangat bersyukur bisa hadir malam ini untuk menyaksikan langsung perjuangan masyarakat Kepuhkiriman dalam membangun masjid," ujar Minan Abdul Haq saat ditemui di lokasi. "Ini bukan sekadar bantuan material, tetapi wujud kepedulian umat melalui zakat yang telah diamanahkan kepada BAZNAS. Semoga bantuan ini bisa mempercepat penyelesaian pembangunan." Proses serah terima bantuan berlangsung khidmat di tengah-tengah bangunan masjid yang masih terbuka. Takmir masjid dan beberapa tokoh masyarakat setempat menyambut kedatangan tim BAZNAS dengan penuh kehangatan. Mereka mengenakan pakaian muslim tradisional, mencerminkan identitas keagamaan yang kuat di wilayah ini. Suasana malam yang tenang dipenuhi dengan rasa syukur dan harapan akan terwujudnya masjid yang layak sebagai pusat ibadah dan aktivitas keagamaan masyarakat. Dalam perbincangan dengan panitia pembangunan, terungkap bahwa konstruksi masjid telah dimulai sejak beberapa bulan lalu dengan mengandalkan dana swadaya masyarakat. Namun, biaya untuk pengadaan material atap, pengecatan, dan instalasi listrik menjadi kendala yang cukup serius. Bantuan dari BAZNAS diharapkan menjadi dorongan penting untuk melanjutkan tahapan konstruksi berikutnya. "Pembangunan masjid ini adalah bukti gotong royong masyarakat, dan kehadiran BAZNAS malam ini memberikan energi baru bagi kami," ungkap salah satu anggota takmir yang menerima bantuan dengan penuh haru. "Kami berharap masjid ini segera berdiri sempurna dan menjadi pusat kegiatan umat di Kepuhkiriman." Tim BAZNAS juga melakukan assessment mendalam terhadap kondisi pembangunan dan mendokumentasikan setiap detail melalui foto-foto sebagai bukti pelaksanaan program. Data ini akan digunakan untuk evaluasi internal dan perencanaan tindak lanjut jika diperlukan bantuan tambahan atau pendampingan teknis di masa mendatang. Minan menambahkan, "BAZNAS Kabupaten Sidoarjo berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pembangunan masjid ini. Kami tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga memastikan bahwa setiap rupiah zakat yang diamanahkan benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat." Kegiatan malam itu ditutup dengan doa bersama untuk kelancaran pembangunan masjid dan keberkahan bagi semua pihak yang terlibat. Saat tim BAZNAS berpamitan, rasa syukur dan optimisme terpancar dari wajah-wajah jamaah Masjid At-Taubah. Bantuan ini bukan sekadar angka, tetapi simbol solidaritas umat dan bukti bahwa zakat adalah instrumen pemberdayaan sosial yang nyata. Program distribusi bantuan pembangunan masjid merupakan salah satu fokus BAZNAS Kabupaten Sidoarjo dalam mengoptimalkan pemanfaatan dana zakat untuk infrastruktur keagamaan. Dengan pendekatan yang terencana dan berbasis data lapangan, BAZNAS terus berupaya menjangkau berbagai wilayah di Sidoarjo untuk mendukung pembangunan rumah ibadah yang layak dan fungsional bagi masyarakat.
BERITA21/10/2025 | sudrab
Menyusuri Pelosok: BAZNAS Sidoarjo Salurkan Bantuan Fakir ke Enam Keluarga
Menyusuri Pelosok: BAZNAS Sidoarjo Salurkan Bantuan Fakir ke Enam Keluarga
SIDOARJO - BAZNAS Kabupaten Sidoarjo menyalurkan bantuan fakir kepada enam keluarga kurang mampu di dua kecamatan pada Senin (20/10/2025). Program yang merupakan kerjasama dengan BAZNAS Jawa Timur ini menyasar wilayah Tulangan dan Wonoayu, dua kecamatan dengan kantong kemiskinan yang membutuhkan perhatian serius. Distribusi bantuan periode September-Oktober 2025 ini menjangkau Ibu Miatin dan Ibu Rupiati di Desa Grabakan, Tulangan, serta Ibu Rudaiyah di Desa Popoh dan tiga mustahik di Desa Molyodadi, Wonoayu—yakni Ibu Tiami, Bapak Parsa, dan Mbah Gemi. Keenam penerima merupakan warga yang telah terverifikasi memenuhi kriteria fakir menurut ketentuan syariat Islam. "Kami tidak sekadar menyalurkan bantuan, tetapi juga menyaksikan langsung kondisi mereka," ujar M. Sofwan, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang memimpin distribusi. "Setiap rumah yang kami kunjungi adalah sekolah kehidupan. Di sana kami belajar tentang ketangguhan dan kesabaran menghadapi ujian hidup." Perjalanan dimulai dari Desa Grabakan yang terletak jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Ibu Miatin, seorang lansia yang hidup sendiri, menyambut tim BAZNAS dengan penuh syukur. Kondisi rumahnya yang sederhana dengan tungku dapur yang jarang menyala menjadi saksi bisu perjuangan hidup sehari-hari. Tidak jauh dari sana, Ibu Rupiati—juga seorang janda—menunjukkan ekspresi serupa saat menerima bantuan. "Saat Ibu Miatin berkata 'Alhamdulillah, ini sangat membantu kami' dengan suara bergetar, kami menyadari betapa berharganya setiap rupiah yang kami salurkan," kenang Sofwan dengan nada empatik. "Itu bukan sekadar uang, tetapi harapan untuk bertahan hidup." Distribusi berlanjut ke Kecamatan Wonoayu. Di Desa Popoh, tim bertemu Ibu Rudaiyah, seorang ibu yang berjuang sendirian mengurus anak-anaknya setelah suaminya sakit keras. Meski wajahnya menampakkan kelelahan, semangatnya tetap membara untuk memastikan anak-anaknya tetap bersekolah. Di Desa Molyodadi, tim mengunjungi tiga keluarga dengan kondisi yang berbeda-beda. Ibu Tiami yang menjadi tulang punggung keluarga, Bapak Parsa dengan tubuh renta yang masih memaksakan diri bekerja serabutan, dan Mbah Gemi—sosok sepuh berusia lebih dari tujuh dekade yang hidup dalam kesederhanaan luar biasa. "Mbah Gemi mengajarkan kami tentang makna syukur yang sesungguhnya," ungkap Sofwan. "Beliau menerima bantuan dengan senyum tulus, tanpa keluhan meski hidupnya jauh dari kata layak. Inilah wajah kemiskinan yang sesungguhnya—bukan angka statistik, tetapi manusia dengan martabat yang harus kita jaga." Program Bantuan Fakir merupakan salah satu penyaluran zakat yang fokus pada kelompok mustahik yang paling membutuhkan. BAZNAS Sidoarjo bertanggung jawab memastikan setiap bantuan sampai tepat sasaran melalui survei mendalam dan verifikasi ketat sesuai kriteria syar'i. M. Sofwan menutup keterangannya dengan ajakan kepada masyarakat Sidoarjo. "Masih banyak Ibu Miatin, Pak Parsa, dan Mbah Gemi lainnya yang membutuhkan bantuan. Program ini berjalan berkat kepercayaan para muzakki yang menyalurkan zakatnya melalui lembaga resmi. Setiap zakat yang dibayarkan adalah investasi kemanusiaan yang mengubah takdir." BAZNAS Sidoarjo mengajak masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam program filantropi untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi guna memastikan penyaluran yang akuntabel dan tepat sasaran kepada delapan golongan mustahik.
BERITA20/10/2025 | sudrab
Tebus Ijazah: BAZNAS Sidoarjo Bebaskan Masa Depan Anak Pekerja Serabutan
Tebus Ijazah: BAZNAS Sidoarjo Bebaskan Masa Depan Anak Pekerja Serabutan
SIDOARJO - BAZNAS Kabupaten Sidoarjo kembali menunjukkan kepedulian nyata terhadap pendidikan masyarakat kurang mampu melalui program Tebus Ijazah. Senin (20/10/2025), lembaga filantropi Islam ini menyalurkan bantuan kepada Ananda Fikri Ari, lulusan SMK Muhammadiyah 1 Taman tahun ajaran 2023/2024, yang ijazahnya tertahan karena keterbatasan ekonomi keluarga. Penyerahan bantuan berlangsung di SMK Muhammadiyah 1 Taman dan diterima langsung oleh Ibu Fauriyah, Kepala Tata Usaha sekolah tersebut. Turut hadir mendampingi adalah Bapak Andik, orang tua Fikri yang bekerja serabutan untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya di Desa Medaeng, Waru. "Kami melihat program Tebus Ijazah ini bukan sekadar membebaskan dokumen yang tertahan, tetapi membebaskan masa depan anak-anak dari belenggu kemiskinan," ujar Ahmad Hamdani, Staf Pelaksana BAZNAS Sidoarjo yang memimpin distribusi bantuan hari itu. "Setiap ijazah yang kami tebus adalah pintu gerbang menuju peluang kerja, pendidikan lanjut, dan kehidupan yang lebih bermartabat." Bagi Pak Andik, bantuan ini datang bagaikan jawaban doa panjang keluarganya. Pria asal Medaeng ini menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan tanpa kepastian penghasilan tetap. Hari ini mengangkut barang, esok membantu di pasar, lusa entah di mana—rutinitas yang telah dijalani bertahun-tahun demi memastikan anak-anaknya tetap bersekolah. "Pak Andik mewakili ribuan orang tua di negeri ini yang berjuang habis-habisan untuk pendidikan anak-anaknya," tambah Ahmad Hamdani dengan nada penuh empati. "Saat ijazah Fikri tertahan, bukan hanya selembar kertas yang terkunci, tetapi juga mimpi-mimpi besar keluarga ini yang terpenjara. Hari ini, Alhamdulillah, kami bisa menjadi bagian dari pembebasan itu." Program Tebus Ijazah merupakan salah satu bentuk penyaluran zakat produktif BAZNAS Sidoarjo yang fokus pada sektor pendidikan. Program ini menyasar siswa-siswi kurang mampu yang telah menyelesaikan pendidikan namun ijazahnya tertahan karena keterbatasan biaya administrasi sekolah. Dokumen ijazah yang tertahan seringkali menjadi penghalang utama bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau melamar pekerjaan. "Setiap nama yang kami catat, setiap bantuan yang kami salurkan, adalah benang-benang harapan yang kami rajut menjadi jaring pengaman sosial," jelas Ahmad Hamdani. "Masih banyak Fikri-Fikri lainnya yang menunggu, masih banyak Pak Andik yang berjuang sendirian di luar sana." Ibu Fauriyah yang menerima bantuan menyampaikan apresiasi tinggi atas program ini. Sebagai Kepala TU yang setiap hari berhadapan dengan deretan nama siswa yang ijazahnya tertahan, ia memahami betul dampak sosial dari program Tebus Ijazah. Ahmad Hamdani menutup keterangannya dengan pesan kepada masyarakat Sidoarjo. "Program ini berjalan berkat kepercayaan para muzakki yang menyalurkan zakatnya melalui BAZNAS. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menggerakkan roda keadilan sosial. Dengan terus berzakat melalui lembaga resmi, kita bersama-sama bisa membebaskan lebih banyak masa depan anak-anak Indonesia." BAZNAS Sidoarjo mengajak masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam program filantropi serupa untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi guna memastikan penyaluran yang tepat sasaran dan akuntabel.
BERITA20/10/2025 | sudrab
Solidaritas Bantu Pemulihan: SMAN 3 Serahkan Bantuan untuk Korban Tragedi Ponpes Al-Khoziny
Solidaritas Bantu Pemulihan: SMAN 3 Serahkan Bantuan untuk Korban Tragedi Ponpes Al-Khoziny
Sidoarjo – Duka mendalam masih menyelimuti Kabupaten Sidoarjo. Tragedi ambruknya musholla Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran pada 29 September lalu menewaskan 63 santri, meninggalkan luka yang sulit terlupakan. Namun di tengah kesedihan itu, secercah cahaya harapan datang dari uluran tangan sesama. Perwakilan keluarga besar SMAN 3 menyerahkan bantuan senilai Rp3.205.000 kepada BAZNAS Sidoarjo, Jumat (17/10), sebagai bentuk solidaritas untuk pemulihan pasca-tragedi. Rombongan yang dipimpin Ibu Sefinda AR, salah satu pengajar SMAN 3, bersama rekan sejawatnya dan tiga peserta didik diterima langsung oleh M. Naim, M.Pd.I, Amil Pelaksana BAZNAS Sidoarjo di kantornya yang beralamat di Jalan Pahlawan I Nomor 10. Penyerahan bantuan berlangsung penuh kehangatan, mencerminkan kepedulian lintas institusi pendidikan di Sidoarjo. "Ini adalah wujud kepedulian kami sebagai bagian dari masyarakat Sidoarjo. Kami tidak bisa tinggal diam melihat saudara-saudara kami mengalami musibah sebesar ini," ujar Ibu Sefinda dengan suara bergetar. "Dana ini dikumpulkan dari seluruh civitas akademika SMAN 3, dari guru, karyawan, hingga siswa-siswi kami yang rela menyisihkan uang saku mereka." Tragedi yang menimpa Ponpes Al-Khoziny tercatat sebagai salah satu bencana paling memilukan dalam sejarah Sidoarjo. Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jawa Timur, Kombes Pol. dr. Mohammad Khusnan Marzuki, mengonfirmasi bahwa seluruh 63 jenazah korban telah teridentifikasi pada Rabu, 15 Oktober 2025. Tim DVI Polda Jatim menyelesaikan identifikasi lima jenazah terakhir yang cocok dengan data ante mortem. "Data ante mortem yang melaporkan orang hilang yaitu 63 korban dan sudah teridentifikasi seluruhnya sebanyak 63 orang," kata Khusnan. Operasi tim DVI pun resmi ditutup setelah seluruh jenazah diserahkan kepada keluarga santri untuk dimakamkan. M. Naim menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan yang diterima. "Ini bukan sekadar bantuan materi, tetapi bukti bahwa solidaritas tidak mengenal sekat. Dari sekolah umum untuk pesantren, dari generasi muda untuk sesama. Dana ini akan kami salurkan untuk membantu proses pemulihan, baik untuk renovasi musholla maupun dukungan bagi keluarga korban yang membutuhkan," jelasnya. Ketiga peserta didik SMAN 3 yang hadir tampak khidmat. Salah satu di antara mereka, seorang siswa berbusana pramuka, mengungkapkan perasaannya. "Kami sedih mendengar kabar ini. Mereka adalah teman-teman sebaya kami yang seharusnya masih bisa mengejar cita-cita. Kami ingin berbuat sesuatu, sekecil apa pun, untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan." Bantuan senilai Rp3.205.000 ini menjadi simbol persaudaraan di tengah duka. Angka tersebut bukan hanya representasi nilai nominal, tetapi cerminan dari ratusan tangan yang terulur, ratusan hati yang berdenyut penuh empati. Di ruang kantor BAZNAS yang dihiasi logo Garuda Pancasila bercahaya, foto bersama diabadikan. Senyum tipis menghiasi wajah mereka—senyum yang lahir bukan dari kegembiraan, tetapi dari kesadaran bahwa mereka telah berbuat sesuatu yang bermakna. Tragedi Ponpes Al-Khoziny meninggalkan luka, namun juga melahirkan kesadaran kolektif tentang pentingnya saling menopang. Bantuan dari SMAN 3 adalah salah satu dari sekian banyak bentuk solidaritas yang terus mengalir, membuktikan bahwa dalam setiap musibah, kemanusiaan selalu menemukan jalannya.
BERITA17/10/2025 | sudrab
Jeda Perang, Harapan Datang: 37 Ribu Paket Bantuan BAZNAS RI Tembus Gaza!
Jeda Perang, Harapan Datang: 37 Ribu Paket Bantuan BAZNAS RI Tembus Gaza!
SIDOARJO - Akhirnya, harapan itu kembali datang! Setelah sekian lama tertahan di perbatasan, konvoi kemanusiaan dari Indonesia berhasil menembus blokade. Momen dimulainya gencatan senjata resmi pada 11 Oktober 2025 menjadi celah emas bagi Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI) untuk mengirimkan bantuan esensial kepada saudara-saudara kita di Gaza. Alhamdulillah! Ribuan paket bantuan dari rakyat Indonesia kini telah berhasil memasuki wilayah Gaza, membawa serta pesan solidaritas yang menghangatkan di tengah dinginnya konflik. Bantuan ini bukan hanya soal logistik dan tumpukan karung; ini tentang rasa kemanusiaan yang mendalam. Ini tentang pesan bahwa mereka tak sendiri. Bahwa dari jauh, bentangan kasih Indonesia tetap ada, mendampingi perjuangan masyarakat Palestina. Dalam momen krusial gencatan senjata ini, BAZNAS RI bergerak cepat. Sebanyak 37.000 paket bantuan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat yang terisolasi. Dalam foto-foto yang dirilis BAZNAS, terlihat antrean truk-truk besar berjejer rapi di perbatasan Rafah, dipenuhi muatan yang dibungkus plastik bening, memperlihatkan label BAZNAS Indonesia, berkolaborasi dengan Bulan Sabit Merah Mesir (Egyptian Red Crescent) yang logonya tampak jelas di badan truk. Muatan ini terdiri dari ribuan ton bantuan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok yang paling dibutuhkan oleh mereka yang berjuang di tengah ujian berat. Langkah ini merupakan implementasi nyata dari komitmen BAZNAS untuk "MEMBASUH LUKA PALESTINA." Bantuan ini adalah hasil konkret dari doa dan dukungan masyarakat Indonesia yang terus mengalir tanpa henti. Setiap karung beras, setiap kotak obat, dan setiap selimut yang diangkut oleh truk-truk tersebut membawa serta keikhlasan dan harapan dari jutaan donatur di Tanah Air. Namun, perjuangan ini belum selesai. Gencatan senjata ini adalah kesempatan, bukan akhir. Ini adalah jendela waktu yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kembali peduli, untuk kembali membantu, dan untuk memastikan bahwa bantuan terus mengalir. Kondisi di Gaza masih sangat rentan, dan kebutuhan akan uluran tangan terus meningkat setiap harinya. Keberhasilan penyaluran 37.000 paket ini adalah permulaan. BAZNAS RI mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak mengendurkan semangat filantropi. Teruslah hadir, teruslah berdonasi, dan teruslah menjadi mercusuar harapan bagi Palestina. Melalui BAZNAS, mari kita pastikan bahwa cinta, doa, dan dukungan Indonesia akan menjadi energi tak terbatas untuk meringankan beban mereka. Perjuangan kemanusiaan masih berlanjut, dan kita harus memastikan bahwa tidak ada satu pun saudara kita di Palestina yang merasa ditinggalkan.
BERITA14/10/2025 | sudrab
PULIHKAN PONPES AL-KHOZINY: DARI DONASI SISWA KEBERKAHAN YANG BERGERAK BERSAMA
PULIHKAN PONPES AL-KHOZINY: DARI DONASI SISWA KEBERKAHAN YANG BERGERAK BERSAMA
SIDOARJO — Di tengah reruntuhan yang masih menyisakan luka, harapan mulai terbangun kembali. Donasi senilai Rp 3.627.900 dari siswa dan civitas akademika SMP Al Falah As Salam, Ds. Tropodo, Kec. Waru, menjadi simbol kepedulian nyata yang mengalir dari generasi muda untuk saudara-saudara mereka di Pondok Pesantren Al-Khoziny yang tertimpa musibah runtuhnya musholla. Penyerahan donasi ini dilakukan secara simbolis oleh Ustad Farkhan, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, bersama perwakilan siswa, langsung kepada staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, Abdulghoni, di kantor BAZNAS Kabupaten Sidoarjo, Senin (13/10/2025). “Ini bukan sekadar uang. Ini adalah doa, empati, dan komitmen moral dari anak-anak muda yang sudah diajarkan untuk peduli sejak dini,” tegas Ustad Farkhan, menegaskan bahwa aksi ini adalah bagian dari kurikulum karakter sekolahnya. “Kami ingin mereka tumbuh bukan hanya pintar, tapi juga berhati lembut.” Abdulghoni, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, menerima donasi tersebut dengan penuh apresiasi. “Setiap rupiah yang masuk adalah amanah. Kami akan salurkan dengan transparan dan tepat sasaran untuk pulihnya ponpes Alkhoziny,” ujarnya. Selain Donasi dari SMP Al Falah As Salam,Melalui transfer merupakan bagian dari gelombang solidaritas lebih luas digerakkan oleh Keluarga Besar Perguruan Islam (PI) Al-Wahyu Rewwin, Sidoarjo. Sebesar 3.050.000 ditransfer ke Rekening BAZNAS Sidoarjo. Hingga Senin siang, total dana yang telah terkumpul mencapai Rp 270 juta lebih — sebuah angka yang membanggakan, namun tetap dianggap sebagai awal, bukan akhir. “Ini bukan akhir, tapi awal,” kata Abdulghoni dengan nada penuh semangat. “Rekonstruksi fisik butuh waktu. Penyembuhan trauma butuh lebih banyak lagi. Tapi dengan sinergi seperti ini, tidak ada yang mustahil.” BAZNAS Sidoarjo membuka seluas-luasnya pintu bagi siapa pun yang ingin berkontribusi. Baik melalui transfer ke rekening resmi, maupun kunjungan langsung ke kantor di Jl. Pahlawan I No. 10. Informasi lebih lanjut dapat diakses via telepon 085-943-638-999 atau website www.kabsidoarjo.baznas.go.id . Di balik setiap rupiah yang terkumpul, ada doa. Doa untuk para korban, untuk keluarga yang kehilangan, dan untuk Ponpes Al-Khoziny yang akan bangkit lebih kuat. Seperti kata Ustad Farkhan, “Berbagi bukan soal besar kecilnya nominal, tapi seberapa tulus hati kita memberi.” Bagi para donatur, baik individu maupun lembaga, terima kasih tak terhingga. Semoga setiap tetes kebaikan Anda menjadi amal jariyah yang mengalir tanpa henti, dan Allah SWT membalasnya dengan kebaikan berlipat ganda. Karena dalam kemanusiaan, tidak ada donasi yang terlalu kecil. Yang terpenting adalah niat tulus untuk berbagi — dan itulah yang sedang terjadi di Sidoarjo. Bersama, kita pulihkan Ponpes Al-Khoziny. Bersama, kita bangun kembali harapan.
BERITA13/10/2025 | sudrab
Terima Kasih Orang Baik: Ribuan Porsi Nasi dan Donasi Natura Tersalurkan Pasca Runtuhnya Musholla Ponpes AL-Khoziny
Terima Kasih Orang Baik: Ribuan Porsi Nasi dan Donasi Natura Tersalurkan Pasca Runtuhnya Musholla Ponpes AL-Khoziny
SIDOARJO — “Terima kasih, orang-orang baik,” ucap Abdul Ghoni, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, dengan suara bergetar saat menyampaikan data pemanfaatan logistik Posko BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) Jawa timur di Pondok Pesantren Al-Khoziny. Hal itu merupakan ungkapan tulus atas gelombang solidaritas yang mengalir deras selama sembilan hari masa tanggap darurat pasca-runtuhnya musholla ponpes pada 29 September lalu,Senin (13 /10) di kantor BAZNAS Sidoarjo Dalam tempo kurang dari 24 jam sejak insiden, ratusan donasi natura—mulai dari beras, mie instan, nasi bungkus, hingga alat kesehatan—mengalir dari berbagai penjuru. Total tercatat 255 item donasi dengan nilai taksiran mencapai Rp159 juta. “Yang paling mengharukan, ada donatur yang datang sendiri membawa satu kresek roti dan es teh. Tak peduli jumlahnya, niat tulus itulah yang menyelamatkan hari-hari sulit kami,” kata Ghoni. Sejak hari pertama, BAZNAS Tanggap Bencana Jawa Timur mendirikan Pos Dapur Air dan Dapur Umum di lokasi. Selama periode 29 September–7 Oktober, dapur umum berhasil memproduksi 6.000–7.000 porsi nasi bungkus yang disalurkan kepada santri, relawan, keluarga korban, serta warga sekitar. “Kami tak pernah kehabisan stok karena setiap pagi selalu ada saja truk atau motor yang datang membawa beras, telur, sayur, atau gas LPG,” tambahnya. Donasi tidak hanya berupa makanan. Sebanyak 21 kursi roda, 10 soft cervical collar, 12 head immobilizer, dan ratusan obat-obatan juga diterima. Namun, sesuai protokol medis, seluruh alat kesehatan kini disimpan di gudang Rumah Sehat BAZNAS (RSB). “Tiga kursi roda sudah kami salurkan kepada mereka yang membutuhkan selama evakuasi. Sisanya siap digunakan jika ada kebutuhanpemanfaatan sesuai arahan dan ketentuan berlaku,” jelas Ghoni. Pada 7 Oktober, seluruh sisa logistik non-medis diserahkan langsung kepada pengurus Ponpes Al-Khoziny dan sebagian kecil diberikan kepada relawan santri dari Pondok Pesantren Panji. “Mereka yang membantu tanpa pamrih juga layak mendapat apresiasi,” ujarnya. Ghoni menekankan, keberhasilan respons kemanusiaan ini adalah bukti nyata bahwa krisis justru mempertemukan hati-hati yang peduli**. “Dari TNI, Bhayangkari, alumni, masjid, hingga ‘Hamba Allah’ yang tak ingin disebut namanya—semua punya andil. Inilah Indonesia yang sesungguhnya: gotong royong dalam laku nyata.” Di tengah reruntuhan musholla yang masih menunggu rekonstruksi, semangat kebersamaan justru bangkit lebih kokoh. Dan di balik setiap porsi nasi, setiap dus air mineral, dan setiap doa yang menyertainya, ada ribuan “orang baik” yang menjadi pahlawan tanpa jubah.
BERITA13/10/2025 | sudrab
Solidaritas Berlanjut: Donasi Pemulihan Ponpes Al-Khoziny Tembus Rp250 Juta
Solidaritas Berlanjut: Donasi Pemulihan Ponpes Al-Khoziny Tembus Rp250 Juta
Gelombang Kepedulian Tak Kunjung Surut, BAZNAS Sidoarjo Catat Ratusan Juta Rupiah untuk Korban Runtuhnya Musholla SIDOARJO – Sepuluh hari berlalu sejak tragedi runtuhnya musholla Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada 29 September 2025. Namun, arus solidaritas justru mengalir semakin deras. Kamis, 9 Oktober 2025, BAZNAS Sidoarjo kembali mencatat lonjakan donasi untuk pemulihan ponpes yang menelan korban jiwa tersebut. Pagi itu, di kantor BAZNAS Sidoarjo Jalan Pahlawan I No. 10, hadir sejumlah donatur dengan hati yang sama: ingin meringankan beban keluarga korban dan membantu pemulihan ponpes yang rata dengan tanah itu. Doa dari Balik Donasi Ibu Khodijah, seorang ibu yang berdonasi dan diwakilkan oleh anak dan menantunya. Anak beliau, pasangan suami-istri Muhammad Muhtashor dan sang istri yang juga owner produsen tas dengan brand MOONZAYA, menyerahkan donasi sebesar Rp5.000.000.di kantor BAZNAS Sidoarjo "Ini bagian dari kirim doa untuk para ahli kubur kami. Semoga bisa bermanfaat untuk pemulihan ponpes dan keluarga korban," ujar sang anak dengan suara bergetar. Donasi itu bukan sekadar angka. Ia adalah doa yang dikirim dari alam baka, melalui tangan-tangan yang masih hidup. Kepedulian yang melintasi batas kematian. Pelajaran Empati dari Sekolah Tak lama berselang, delegasi dari SMPN 1 Sukodono tiba. Dipimpin oleh Ibu Dra. Nunuk Sriasih dan Ika Oktana Amelia, S.Ak, mereka membawa donasi sebesar Rp11.307.000—hasil penggalangan dari seluruh warga sekolah. Yang menarik, dua perwakilan peserta didik turut hadir: Aqila Nafis Aisy Salsabia dan Reyhan Syahmi Fazzagaidha. Dua remaja yang belajar arti empati bukan dari buku, melainkan dari aksi nyata. "Kami ikut merasakan kesedihan teman-teman santri yang kehilangan teman dan tempat belajarnya. Ini sedikit bantuan dari kami," ucap Aqila dengan mata berbinar. Pendidikan sejati bukan hanya soal matematika atau bahasa. Ia juga tentang bagaimana menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Dan SMPN 1 Sukodono membuktikannya. Angka yang Terus Bergerak Per Kamis siang, 9 Oktober 2025, total donasi dalam bentuk uang yang masuk ke BAZNAS Sidoarjo telah menembus angka Rp250 juta lebih—dan terus bertambah. Angka dinamis yang mencerminkan kepedulian kolektif masyarakat Sidoarjo. Donasi datang melalui dua jalur: penyerahan langsung di kantor BAZNAS Jalan Pahlawan I No. 10, dan transfer perbankan ke rekening atas nama BAZNAS Sidoarjo. "Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan masyarakat. Dana ini akan kami salurkan secara transparan dan akuntabel untuk pemulihan ponpes serta bantuan bagi keluarga korban," ujar Khamdani, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo. Refleksi di Tengah Duka Tragedi Al-Khoziny mengingatkan kita pada kerapuhan hidup. Dalam sekejap, bangunan runtuh, nyawa melayang, dan masa depan berubah. Namun, di tengah duka yang mencekam, solidaritas justru tumbuh subur. Dari ibu hingga anak-anak sekolah yang baru belajar arti empati, semuanya bersatu dalam satu misi: meringankan beban sesama. Rp250 juta bukan angka kecil. Tapi lebih dari itu, ia adalah bukti bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat kita. Bahwa kemanusiaan masih menjadi nilai yang dijunjung tinggi. Bukan Akhir, Tapi Awal Upaya pemulihan ponpes Al-Khoziny masih panjang. Bangunan perlu direkonstruksi, trauma perlu disembuhkan, dan harapan perlu ditumbuhkan kembali. Namun dengan solidaritas seperti ini, tidak ada yang mustahil. BAZNAS Sidoarjo terus membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berkontribusi. Karena dalam kemanusiaan, tidak ada donasi yang terlalu kecil. Yang terpenting adalah niat tulus untuk berbagi. Dan di balik setiap rupiah yang terkumpul, ada doa. Doa untuk para korban, untuk keluarga yang ditinggalkan, dan untuk ponpes yang bangkit kembali lebih kuat. Bagi yang ingin menyalurkan donasi: Langsung: Kantor BAZNAS Sidoarjo, Jl. Pahlawan I No. 10 Transfer: Rekening a/n BAZNAS Sidoarjo (nomor rekening dapat dilihat di website resmi) - Informasi: 085-943-638-999 | www.kabsidoarjo.baznas.go.id | Kantor digital Baznas Sidoarjo Karena kebaikan, seperti harapan, tidak pernah mengenal kata terlambat.
BERITA09/10/2025 | sudrab
Anniversary Warung Mimi: Ajak Relawan Tanggap Bencana BAZNAS Sidoarjo Makan Gratis
Anniversary Warung Mimi: Ajak Relawan Tanggap Bencana BAZNAS Sidoarjo Makan Gratis
Ketika Kepedulian Dirayakan dengan Keberkahan Bersama SIDOARJO – Di tengah hiruk-pikuk Jalan Gajah Magersari No. 5, Kelurahan Magersari, sebuah warung sederhana menjadi saksi bisu pertemuan hati-hati yang ikhlas. Kamis, 9 Oktober, Warung Mimi merayakan hari jadinya yang ketiga dengan cara berbeda: mengundang puluhan relawan BAZNAS Sidoarjo untuk makan bersama, tanpa dipungut biaya sepeser pun. Ini bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa. Ini adalah ungkapan syukur dan terima kasih atas kolaborasi kemanusiaan yang terjalin selama penanganan bencana runtuhnya musholla Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Bagi para relawan BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) Jawa Timur, Warung Mimi bukan nama asing. Sejak 29 September hingga 7 Oktober lalu. Setiap hari, 150 paket makan beserta es teh segar mengalir dari dapur mungil ini menuju lokasi bencana. Empat hari berturut-turut, tanpa henti, tanpa keluh. "Luar biasa kontribusi Warung Mimi. Semoga partisipasi dan keikhlasannya ini mendapatkan balasan dari Allah SWT, keberkahan selalu berlimpah. Apalagi ini ditambah makan gratis bareng relawan," ujar Khamdani, staf pelaksana BAZNAS Sidoarjo, dengan senyum penuh makna. Apresiasi itu bukan bualan. Di tengah kepanikan pasca-runtuhnya musholla yang menewaskan sejumlah santri, kehadiran makanan fresh menjadi penenang. Warung Mimi hadir sebagai perpanjangan tangan dari kepedulian yang lebih besar. Ibu Wiwik, pemilik Warung Mimi, menerima ucapan terima kasih itu dengan rendah hati. Perempuan asli madura ini mengaku hanya menjalankan amanah. "Kami hanya menyalurkan saja dari adik kami yang kebetulan jadi istri Kapolres di salah satu kabupaten Jawa Timur ini," ungkapnya sambil tersenyum. Namun, kesederhanaan pengakuan itu tak mengurangi besarnya peran. Dalam situasi darurat, logistik adalah nyawa. Dan Warung Mimi memastikan para relawan dan korban bencana tak kelaparan di tengah duka. Perayaan ulang tahun ketiga ini menjadi momen refleksi. Bagaimana sebuah warung kecil bisa menjadi bagian dari ekosistem kemanusiaan yang lebih besar. Bagaimana kepedulian tak selalu butuh modal besar, tapi ketulusan yang teguh. Di meja-meja yang penuh tawa dan cerita, para relawan berbagi pengalaman. Ada yang menceritakan malam-malam tanpa tidur di lokasi bencana, ada yang mengenang tangis keluarga korban, ada pula yang bersyukur masih diberi kesempatan berbagi. Warung Mimi berdiri sebagai pengingat: filantropi tak melulu soal angka donasi yang fantastis. Kadang, ia hadir dalam wujud nasi bungkus hangat, es teh manis, dan pelukan tulus dari sesama manusia yang peduli. Saat pelita-pelita kecil seperti Warung Mimi terus menyala, harapan untuk Indonesia yang lebih peduli pun semakin nyata. Dan di ulang tahunnya yang ketiga ini, Warung Mimi membuktikan: berbagi itu tak butuh panggung besar, cukup hati yang lapang dan tangan yang terulur.
BERITA09/10/2025 | sudrab
BAZNAS Sidoarjo Raih Penghargaan Program Kesehatan dan Donasi Palestina Terbaik
BAZNAS Sidoarjo Raih Penghargaan Program Kesehatan dan Donasi Palestina Terbaik
Sidoarjo — Di tengah gelaran Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) BAZNAS Jawa Timur 2025, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo menorehkan prestasi membanggakan. Lembaga pengelola zakat ini berhasil meraih BAZNAS Award sebagai institusi terbaik dalam Program Peduli Kesehatan dan Donasi Palestina. Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Ketua I BAZNAS Jawa Timur, KH M. Masnuh, kepada Ketua BAZNAS Sidoarjo, M. Chasbil Azis Salju Sodar—atau akrab disapa Gus Jazuk—dalam acara yang berlangsung di Surabaya, Rabu (8/10/2025). Momen tersebut menjadi salah satu puncak dari rangkaian Rakorda yang mengusung tema "Menguatkan Baznas dengan Mendukung Asta Cita." Gus Jazuk, yang menerima penghargaan bersama seluruh pimpinan BAZNAS Sidoarjo, tak menyembunyikan rasa syukurnya. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa capaian ini bukan semata-mata hasil kerja keras pengurus, melainkan buah dari keikhlasan para muzaki—orang-orang yang mempercayakan sebagian hartanya untuk disalurkan melalui lembaga ini. "Ini adalah buah keikhlasan segenap muzaki yang merelakan untuk menitipkan kewajiban dan kebaikannya melalui BAZNAS Sidoarjo," ungkap Gus Jazuk dengan nada penuh apresiasi. "Penghargaan ini milik mereka, para donatur yang terus percaya kepada kami." Penghargaan ganda yang diraih BAZNAS Sidoarjo mencerminkan komitmen kuat lembaga dalam menjalankan misi kemanusiaan. Program Peduli Kesehatan yang mereka kelola telah menyentuh ribuan mustahik di wilayah Sidoarjo, mulai dari bantuan pengobatan, operasi, hingga penyediaan alat kesehatan bagi keluarga kurang mampu. Sementara itu, program donasi untuk Palestina menunjukkan kepedulian lintas batas terhadap saudara sebangsa yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan. Rakorda BAZNAS Jawa Timur tahun ini digelar dengan fokus pada penguatan tata kelola zakat yang lebih profesional dan berbasis digital. Ketua BAZNAS Jawa Timur, KH Ali Maschan Moesa, menegaskan pentingnya peningkatan kualitas dalam segala aspek—mulai dari pengumpulan, distribusi, pelaporan, hingga transparansi keuangan. "Semua data kami merupakan data provinsi karena kami lembaga pemerintah non-struktural. Maka, kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah," jelasnya. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang mewakili Gubernur Khofifah Indar Parawansa, turut memberikan apresiasi. Menurutnya, tata kelola yang baik akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Baznas menghimpun zakat dan infak dari masyarakat dengan pelayanan terbaik dan ikhtiar terbaik untuk umat," ujar Emil. Prestasi BAZNAS Sidoarjo kali ini menjadi bukti nyata bahwa lembaga filantropi Islam dapat berkontribusi signifikan dalam menjawab tantangan sosial. Di tengah kompleksitas persoalan kemanusiaan—baik di dalam negeri maupun di luar—kehadiran lembaga seperti BAZNAS menjadi jembatan penting antara potensi dermawan umat dan kebutuhan riil di lapangan. Dengan penghargaan ini, BAZNAS Sidoarjo diharapkan semakin termotivasi untuk terus berinovasi dan memperluas jangkauan program-program kemanusiaannya. Sebab, di balik setiap rupiah yang terkumpul, ada harapan dan doa dari para muzaki yang ingin kebaikannya sampai kepada mereka yang membutuhkan.
BERITA09/10/2025 | sudrab
KETUA BAZNAS RI APRESIASI KIPRAH BTB JATIM: “BAZNAS HADIR DI SETIAP DETIK DARURAT”
KETUA BAZNAS RI APRESIASI KIPRAH BTB JATIM: “BAZNAS HADIR DI SETIAP DETIK DARURAT”
Sidoarjo, 8 Oktober 2025 — Dalam suasana yang penuh empati dan tekad membangun kembali harapan, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, secara tegas mengapresiasi kiprah luar biasa Baznas Tanggap Bencana (BTB) Jawa Timur dalam menangani tragedi runtuhnya mushola Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo. Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Prof. Noor Achmad saat meresmikan Rumah Singgah Mustahik BAZNAS di Jalan Balai Desa Candi No. 5, Sidoarjo, Kamis (8/10/2025). “BAZNAS hadir di setiap detik darurat. Tidak hanya sebagai penyalur bantuan, tapi sebagai garda terdepan yang berdiri bersama korban, relawan, dan tim penyelamat sejak detik pertama bencana,” tegas Prof. Noor Achmad dengan nada penuh kebanggaan. Tragedi yang mengguncang hati bangsa itu terjadi pada Senin (29/9/2025), ketika bangunan mushola tiga lantai di asrama putra Ponpes Al-Khoziny ambruk saat para santri tengah melaksanakan salat Ashar. Dari total 172 korban, 61 jiwa dinyatakan meninggal dunia, sementara 104 lainnya selamat—sebagian besar mengalami luka ringan hingga berat. Proses evakuasi yang berlangsung selama delapan hari penuh akhirnya ditutup resmi oleh Basarnas pada Selasa (7/10/2025). Di tengah duka yang mendalam, BTB Jatim—dengan dukungan penuh dari BAZNAS RI—langsung bergerak cepat. Tim SAR BTB bergabung erat dengan Basarnas dalam operasi penyelamatan, menembus reruntuhan demi menyelamatkan nyawa. Tak hanya itu, BTB juga mengaktifkan layanan dapur umum yang melayani ribuan porsi makanan bagi wali santri, petugas, dan relawan yang berjibaku di lokasi. Layanan kesehatan pun tidak luput dari perhatian, dengan Rumah Sehat BAZNAS (RSB) AlChusnaini-Sidoarjo menjadi pusat pelayanan medis, termasuk layanan mobile di pos-pos pengungsian seperti Masjid Al-Karomah. “Ini bukan sekadar respons cepat. Ini adalah komitmen moral dan institusional BAZNAS untuk menjadi pelindung bagi yang rentan, penolong bagi yang terluka, dan penenang bagi yang berduka,” lanjut Prof. Noor Achmad. Dalam kesempatan yang sama, BAZNAS RI menyerahkan bantuan langsung senilai Rp300 juta kepada pengasuh Ponpes Al-Khoziny, yang diserahkan bersamaan dengan kunjungan Menteri Agama. Bantuan ini merupakan bagian dari komitmen BAZNAS untuk memastikan bahwa dampak trauma dan ekonomi pasca-bencana dapat segera diminimalisir. Prof. Noor Achmad menekankan, kiprah BTB Jatim dalam tragedi ini adalah contoh konkret dari filantropi modern yang responsif, terintegrasi, dan berbasis kebutuhan nyata. “Kita tidak hanya memberi uang. Kita memberi waktu, tenaga, empati, dan solusi nyata. Itulah esensi zakat dan filantropi nasional,” katanya. Dengan apresiasi ini, BAZNAS RI berharap seluruh unit BTB di Indonesia dapat mencontoh sinergi, kecepatan, dan kepekaan yang ditunjukkan BTB Jatim. Sebab, dalam setiap gempa, ambruk, atau musibah, BAZNAS tidak boleh telat. Harus hadir. Harus bergerak. Harus menyelamatkan. Dan di Sidoarjo, mereka telah membuktikannya.
BERITA08/10/2025 | sudrab
Rumah Singgah Mustahik BAZNAS Sidoarjo, Tempat Istirahat yang Penuh Harapan
Rumah Singgah Mustahik BAZNAS Sidoarjo, Tempat Istirahat yang Penuh Harapan
Sidoarjo, 8 Oktober 2025 — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia meresmikan Rumah Singgah Mustahik di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Fasilitas seluas 200 meter persegi ini dirancang untuk memberikan tempat tinggal sementara bagi keluarga pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit mitra, peserta program pemberdayaan, serta warga yang mengalami krisis sosial. Peresmian berlangsung sederhana namun khidmat di Jalan Candi Besar, Kecamatan Candi, dihadiri Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, perwakilan BAZNAS Jawa Timur, serta pejabat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan diakhiri dengan santunan kepada anak yatim dan keluarga dhuafa. Rumah singgah ini memiliki delapan kamar tidur berukuran 4x4 meter, masing-masing dilengkapi kamar mandi dalam. Fasilitasnya dirancang agar penghuni merasa nyaman, aman, dan terlindungi—terutama bagi mereka yang sedang dalam kondisi rentan. Layanan diberikan gratis, dengan prosedur check-in yang mudah: cukup menunjukkan identitas dan keperluan singgah. Pembiayaan pembangunan senilai lebih dari Rp700 juta berasal dari BAZNAS RI, sementara operasional harian dikelola oleh BAZNAS Kabupaten Sidoarjo. Kolaborasi vertikal ini menjadi bagian dari upaya memastikan tata kelola zakat yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. “Ini bukan sekadar rumah singgah, tapi rumah kasih,” kata Prof. Noor Achmad. “Zakat bukan hanya ibadah, tapi solusi nyata atas kesulitan sesama.” Kehadiran rumah singgah ini mendapat dukungan luas dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perwakilan rumah sakit mitra. Mereka melihat fasilitas ini sebagai wujud konkret transformasi zakat menjadi kekuatan pemulihan sosial. Bagi BAZNAS, peresmian ini merupakan langkah awal dalam membangun kepercayaan publik melalui aksi nyata. Di tengah kompleksitas persoalan sosial, rumah singgah ini hadir sebagai ruang istirahat sekaligus ruang harapan—tempat di mana zakat benar-benar mengalir dan mengubah hidup.
BERITA08/10/2025 | sudrab
DAPUR AIR BTB JATIM: OASE DI TENGAH PANAS, HUB KESEHATAN DAN KONSUMSI UNTUK RELAWAN Dan KORBAN RUNTUHNYA MUSHOLLA PONPES ALKHOZINY
DAPUR AIR BTB JATIM: OASE DI TENGAH PANAS, HUB KESEHATAN DAN KONSUMSI UNTUK RELAWAN Dan KORBAN RUNTUHNYA MUSHOLLA PONPES ALKHOZINY
SIDOARJO,(06/10)- Di tengah teriknya udara dan debu yang masih menggantung, sebuah titik kehidupan kecil namun vital terus berdenyut di lokasi tanggap bencana runtuhnya Musholla Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Ia tak bernama megah, tak punya tenda besar atau spanduk mencolok — tapi bagi ratusan relawan, petugas evakuasi, dan keluarga korban, Pos Dapur Air BTB (BAZNAS Tanggap Bencana) Jawa Timur adalah oase nyata. Tempat istirahat, tempat minum air hangat, tempat makan siang panas, dan kini, juga menjadi hub layanan kesehatan yang efektif dan responsif. Sejak hari pertama bencana Senin (29/9/2025), saat bangunan musholla ambruk menimpa puluhan santri dan warga sekitar, BTB Jatim tidak hanya turun dengan logistik dan personel. Mereka membangun sistem tanggap darurat yang holistik — dan Pos Dapur Air menjadi jantungnya. Di sini, bukan sekadar makanan dan minuman disediakan. Di sini, setiap gelas air hangat, setiap porsi nasi panas, dan setiap sesi pengobatan ringan menjadi simbol solidaritas yang tak terhenti. Data resmi BASARNAS per 6 Oktober 2025 pukul 03.38 menunjukkan total 159 korban telah dievakuasi. Dari jumlah itu, 76 orang mengalami luka ringan, 27 luka berat, 50 meninggal dunia, dan 5 lainnya dalam kondisi body part. Ratusan korban ini tersebar di berbagai rumah sakit di Jawa Timur, dengan RS Siti Hajar Surabaya menerima pasien terbanyak (53 orang), diikuti Bhayangkara Surabaya (50 orang) dan RSUD RT Notopuro (44 orang). Namun, di balik angka-angka statistik itu, ada manusia-manusia yang lelah, lapar, dan butuh dukungan fisik maupun emosional. Dan di sinilah Pos Dapur Air BTB Jatim berperan strategis. Sebagaimana terpantau Minggu malam (5/10/2025), layanan kesehatan di pos ini telah menjangkau 30 penerima manfaat — 28 laki-laki dan 2 perempuan — dengan keluhan dominan: pegal, lelah, dan kelelahan fisik akibat kerja berjam-jam di lokasi bencana. “Ini bukan hanya dapur, tapi pusat pemulihan,” ujar Yogyis, petugas Rumah Sehat Baznas (RSB), yang selain melayani di Pos Dapur Air, juga melakukan jemput bola ke lokasi-lokasi seperti Masjid Al Karomah — tempat banyak keluarga wali santri berkumpul. “Kami datang ke mereka, karena mereka tak bisa datang ke kami. Ini bagian dari prinsip BTB: cepat, tepat, dan dekat.” Keberadaan Pos Dapur Air juga menjadi magnet bagi relawan ambulance, tim evakuasi, dan aparat keamanan. Mereka tak hanya beristirahat, tapi juga mendapat asupan energi dan pengecekan kesehatan cepat. Dalam operasi bencana, kelelahan fisik bisa jadi musuh terbesar — dan BTB Jatim tahu betul cara mengatasinya. Solidaritas ini bukan hanya lokal. Personel BTB dari Jombang, Kabupaten Madiun, Trenggalek, Probolinggo, hingga Tulungagung berdatangan membawa bantuan dan keahlian. Sinergi lintas wilayah ini menciptakan operasi penyelamatan yang luar biasa efektif — dan Pos Dapur Air menjadi salah satu simbol dari kekuatan kolaborasi tersebut. Di tengah duka, di tengah debu, di tengah panas terik — Dapur Air BTB Jatim terus menyala. Bukan hanya sebagai sumber konsumsi, tapi sebagai pusat harapan. Karena di situlah, setetes air hangat bisa jadi obat, sepiring nasi bisa jadi kekuatan, dan satu senyum dari petugas bisa jadi penyemangat untuk terus maju. Bersama kita tanggap. Bersama kita pulih.
BERITA06/10/2025 | sudrab
UPDATE Runtuhnya Musholla Ponpes Al-Khoziny: Tim SAR Terus Berjuang di Hari Ketujuh Evakuasi Ponpes Al-Khoziny
UPDATE Runtuhnya Musholla Ponpes Al-Khoziny: Tim SAR Terus Berjuang di Hari Ketujuh Evakuasi Ponpes Al-Khoziny
SIDOARJO – Operasi pencarian dan penyelamatan korban reruntuhan Pondok Pesantren Al-Khoziny memasuki fase krusial di hari ketujuh. Hingga Minggu pagi, 5 Oktober 2025 pukul 05.00 WIB, jumlah korban jiwa bertambah menjadi 37 santri yang dipastikan meninggal dunia, termasuk satu bagian tubuh yang belum teridentifikasi. Dalam laporannya, Direktur Operasi BNPB Laksamana TNI Yudhi Bramantyo menyampaikan bahwa tim gabungan berhasil mengevakuasi 11 korban dalam rentang waktu kurang dari empat jam di dini hari tadi. Kesebelas korban tersebut ditemukan di sektor A3 dan A4, area yang menjadi pusat runtuhan mushala pesantren. Evakuasi pertama dimulai pukul 00.15 WIB dan terus berlanjut hingga pukul 03.24 WIB. Korban terakhir yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh—hanya kaki kanan dari batas panggul hingga telapak kaki—menambah duka mendalam bagi seluruh pihak yang terlibat dalam operasi penyelamatan ini. Yudhi menjelaskan bahwa kondisi tubuh korban yang tidak utuh kemungkinan besar disebabkan oleh tekanan material bangunan yang sangat berat, bukan akibat penggunaan alat berat selama proses evakuasi. Tim SAR terus bekerja dengan kehati-hatian maksimal untuk menghormati setiap korban yang ditemukan. Fokus Pencarian Bergeser ke Pusat Mushala Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit melaporkan bahwa progres pembersihan puing telah mencapai 60 persen. Hampir seluruh material runtuhan di sektor A4 telah berhasil disingkirkan, dan kini fokus pencarian bergeser ke bagian tengah bangunan di sektor A3 dan A2. Nanang menegaskan bahwa tim memperkirakan sebagian besar korban tertimbun di sektor A4, titik di mana mushala berdiri. Lokasi ini menjadi pusat tragedi karena puluhan santri tengah melaksanakan salat Ashar ketika bangunan tiba-tiba ambruk. Harapan besar tertumpu pada area tengah mushala yang diprediksi masih menyimpan korban. Proses evakuasi difokuskan pada sisi utara bangunan, khususnya bagian yang tidak terintegrasi dengan struktur utama. Langkah ini diambil untuk mempercepat akses menuju titik-titik kritis tanpa membahayakan stabilitas puing yang tersisa. Identifikasi Korban Masih Berlangsung Dari total 141 orang yang terdampak tragedi ini, sebanyak 104 santri berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup. Namun sayangnya, 37 lainnya harus direlakan dalam keadaan meninggal dunia. Hingga saat ini, baru lima korban yang berhasil teridentifikasi secara resmi. Sisanya masih menjalani proses identifikasi di RS Bhayangkara Surabaya, tempat tim forensik bekerja tanpa henti untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BNPB, TNI, Polri, BAZNAS Tanggap Bencana, serta ratusan relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan terus bekerja optimal hingga dini hari. Mereka berkomitmen tidak akan menghentikan operasi sampai seluruh korban berhasil dievakuasi dan setiap keluarga mendapatkan kepastian. Yudhi menegaskan bahwa meski operasi telah memasuki hari ketujuh dengan segala tantangan fisik dan mental, semangat tim tidak pernah surut. Setiap korban yang ditemukan diperlakukan dengan penuh hormat dan kehati-hatian, seolah mereka adalah keluarga sendiri. Tragedi Ponpes Al-Khoziny menjadi pengingat tentang pentingnya standar keselamatan bangunan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, sekaligus menunjukkan solidaritas luar biasa dari seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi musibah kemanusiaan.
BERITA05/10/2025 | sudrab
KURSI RODA UNTUK NABILUL: DARI RERUNTUHAN MUSHOLLA HINGGA HARAPAN BARU SANTRI
KURSI RODA UNTUK NABILUL: DARI RERUNTUHAN MUSHOLLA HINGGA HARAPAN BARU SANTRI
SIDOARJO- Di senjayang sepi, , harapan baru mulai menyala. Ananda Nabilul Khoir, santri Ponpes Al Khoziny yang harus kehilangan kakinya akibat runtuhan musholla pada 4 Oktober lalu, akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Bertepatan kembali ke rumah, ia menerima satu hadiah tak ternilai: kursi roda baru, hasil donasi seorang hamba Allah dari Jakarta, yang disalurkan melalui Baznas Tanggap Bencana Jawatimur. Ini bukan sekadar alat bantu medis — ini adalah simbol bahwa dunia masih peduli, bahwa setiap langkah penderitaan bisa diubah menjadi langkah harapan.(4/10) Di balik kehadiran kursi roda itu, ada proses logistik yang luar biasa rapi dan penuh empati. Sejak pagi hari, tim relawan Baznas dengan seragam oranye mencolok dan topi merah bergerak cepat di bawah tenda darurat, mengelola tumpukan kotak-kotak bertuliskan “GEA medical”, “LOVIE WHEELCHAIR”, dan “OXYCAN”. Setiap kotak dikategorikan, diverifikasi, dicatat, dan dikemas ulang dalam tas merah yang siap dikirim — bukan hanya untuk Nabilul, tapi juga untuk korban lain yang membutuhkan. Salah satu petugas bahkan membuka kotak OXYCAN, memastikan tabung oksigen portabel dalam kondisi prima. Semua dilakukan tanpa kegaduhan, tapi dengan ketelitian tinggi — karena bagi mereka, setiap detail adalah nyawa, setiap kotak adalah janji. Bertempat di posko BTB Jawatimur, “BAZNAS”. Di sana, administrasi berjalan lancar, koordinasi terus berlangsung dua sosok saling berjabat tangan di depan kotak besar GEA FS 874 — satu relawan Baznas dan satu perwakilan penerima manfaat — bukan sebagai transaksi, tapi sebagai ikatan kemanusiaan. “Ini bukan sumbangan,” kata salah satu relawan, “ini adalah komitmen kita bersama untuk tidak biarkan siapa pun terjatuh sendirian.” Untuk Nabilul, kursi roda ini bukan akhir dari perjuangannya — tapi awal dari hidup baru. Dan untuk kita semua, ini adalah pengingat: filantropi bukan hanya soal uang, tapi soal hati yang bergerak, tepat waktu, dan tepat sasaran. Alhamdulillah, harapan telah sampai. Dan ia akan terus bergerak — bersama Nabilul.
BERITA04/10/2025 | sudrab
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat